Pengalaman Religius

Pengalaman Religius

Dr. Haidar Bagir, Lecturer of The Islamic College Jakarta 

Pendahuluan

Salah satu pandangan mengenai substansi pengalaman religius adalah adanya dimensi keilahian dalam pengalaman tersebut. Singkatnya pengalaman religius adalah pengalaman keilahian. Kehadiran Tuhan menjadi ciri substantif pengalaman religius.

Sebuah persoalan muncul, ketika seseorang mengalami suatu pengalaman yang dianggapnya religius, bagaimana dia mengetahui dan menentukan bahwa Tuhan telah hadir secara intensif dalam pengalamannya tersebut. Dalam hal ini kita diingatkan bahwa di satu sisi, apa yang dia alami, atau pengalaman itu sendiri adalah sebuah fenomena, suatu peristiwa, suatu apa adanya yang tidak menjadi obek verifikasi untuk kemudian dinilai dalam suatu kategori benar dan salah. Pengalaman adalah sebuah dunia yang dipersepsi, atau labenswelt, dalam istilah Edmun Husserl. Namun di sisi lain, ketika pengalaman tersebut diyakini bersifat religius, maka hal ini menjadi sebuah statement, penilaian, dan klaim, klaim bahwa apa yang dia alami merupakan suatu pengalaman sejati, hakiki mengenai perjumpaan dengan Tuhan. Lalu bagaimanakah kita dapat mengetahui bahwa yang kita alami ini tidak  lain adalah pengalaman bertemu dengan Tuhan? Bagaimana pengalaman religius difahami dalam tradisi intelektual Islam, khususnya filsafat islam dan mistisisme Islam?  Demikianlah kiranya pertanyaan moderator yang dilimpahkan kepada Dr. Haidar Bagir dalam kesempatan diskusi mengenai religius experience, yang dilaksanakan pada hari sabtu,  di the Islamic College, Jakarta.

Menjernihkan kembali makna Spiritualitas: Perspektif Mistisisme Islam

Seringkali pengalaman religius dikaitkan dengan keajaiban-keajaiban di luar kebiasaan. Pengalaman-pengalaman supranatural, pengalaman-pengalamanextraordinary dan sebagainya seringkali dianggap ciri dari suatu pengalaman religius yang genuine. Apakah benar mesti demikian? Benarkah pengalaman religius identik dengan pengalaman yang bermuatan hal-hal yang di luar kebiasaan? Pertanyaan ini penting karena menyangkut pandangan-pandangan mengakar dalam masyarakat kita yang tidak jarang menganggap begitu saja isu-isu fenomena di luar kebiasaan, gaib, sebagai pengalaman spiritual, dan orang yang ahli dalam hal-hal seperti ini sebagai ahli spiritual yang pada prakteknya tidak jarang mirip dengan praktek perdukunan.

Dalam sebuah cerita, seorang sufi bernama abu Said al-Kirbaid didatangi para pengikutnya. Tiga diantaranya berkata pada beliau. Orang pertama, berkata: "Wahai syeikh, si fulan bin fulan itu bisa terbang di udara.” Abu Said dengan singkat menjawab: "Burung jauh lebih pintar.” Kemudian muridnya yang kedua berkata: "Wahai syeikh, si fulan bin fulan dapat berada di beberapa ruang sekaligus.” Sang syekh pun hanya menjawab: "Syetan jauh lebih pintar.” Syetan tidak terikat ruang dan waktu, jadi dia dapat berada  dibeberapa tempat sekaligus.  Kemudian orang ketiga berkata: "Apa tandanya seseorang itu sufi?” "Apa tandanya orang yang dekat dengan Tuhan (karenanya selalu mengalami perjumpaan ilahiah)” Abu Zaid al-Kirbai menjawab: berkhidmat kepada kemanusiaan.”

Dalam cerita lain, suatu ketika seorang sufi besar, Ibrahim bin Adham, bermimpi berjumpa dengan sesosok malaikat yang memangku lembaran. Ibrahim bin Adham bertanya pada sang malaikat perihal lembaran apa yang dibawanya. Sang malaikat menjawab bahwa lembaran tersebut berisi daftar, yaitu daftar  orang-orang yang Tuhan cintai. Syeikh Ibrahim yang penasaran meminta izin sang malaikat untuk membaca setiap nama yang tercantum dalam lembaran tersebut. Namun betapa pun ia adalah seorang sufi besar, namanya sama sekali tak tercantum. Sembari menerima kenyataan dirinya tidak termasuk orang yang Tuhan cintai, Ibrahim bin Adham meminta sang malaikat mencatat namanya sebagai orang yang mencintai manusia. Pada malam selajutnya Ibrahin bin Adham kembali bermimpi bertemu kembali dengan sang malaikat yang ternyata masih membawa lembaran, namun  berbeda dengan lembaran di mimpi sebelumnya, kali ini berisi daftar orang-orang yang mencintai manusia, dan namanya berada di urutan terakhir.

Kisah di atas memberi gambaran, selaras dengan perkataan abu said bin zaid, bahwa mencintai Tuhan dilakukan dengan cara mencintai manusia. Bahkan hadis Rasul mengajarkan, memperoleh cinta penghuni langit diperoleh dengan memberi cinta pada apa makhluk bumi. Ini memperkuat perkataan seorang mistikus Islam Abu Said bin Zaid bahwa cinta Tuhan hanya dapat diperoleh dengan mencintai manusia. Setidaknya cerita di atas memperlihatkan pada kita pada dua hal:

Pertama, konsep semisal keramat, maunat, mukjizat atau peristiwa extraordinarytidak pernah menjadi isu sentral dalam mistisisme, khususnya mistisisme Islam. Bahkan, karomat bagi para sufi dianggap bala (bencana), dalam hal ini difahami sebagai ujian, karena terkadang kelebihan-kelebihan yang muncul jika tanpa dasar kesiapan diri yang kokoh justru dapat memunculkan kotoran dalam hati,  perasaan sombong, atau tertipunya kesadaran sehingga akhirnya dalam praktek semisal perdukunan, dan lain sebagainya.

Namun masyarakat awam justru menkaitkan isu-isu semacam karomah seolah merupakan  isu sentral terkait kadar spiritualitas dan kedekatan seseorang dengan Tuhan. Imam Khomeini, misalnya, sering dianggap  para pengikutnya, khususnya di Iran, memiliki karamah, mampu merealisasikan peristiwa-perisiwa ajaib. Namun beliau sendiri tidak pernah menyinggung dan tidak ada pengakuan darinya bahwa dia memiliki kemampuan semacam itu. Justru dalam berbagai tulisannya, termasuk surat wasiatnya kepada anaknya, berulang kali dia mengatakan dirinya sebagai pengembara yang berjalan di jalan Allah dengan kaki pincang, atau malah merangkak, karena merenungkan kekurangan yang dia rasakan dalam menjalani kesejatian. Bukannya mempertontonkan kelebihan extraordinary apa yang dilimpahkan Allah padanya, namun justru seorang imam spiritual, dengan kerendahan hati lebih memperlihatkan (dan mengajarkan) perilaku introspektif akan kekurangan diri yang dia rasakan di hadapan Tuhan.

Demikianlah dalam tasawuf, isu tentang kemukjizatan merupakan siu periferial, bukan sentral. Bahkan Al-Qur’an mengatakan seandianya Tuhan itu membuka pintu langit, kemudian diciptakan sebuah tangga agar manusia dapat naik dan melihat isi langit, orang yang tidak beriman akan tetap tidak percaya. Itu sebabnya kaum sufi, kaum mistikus, setidaknya dalam tradisi Islam, memiliki kebesaran yang biasanya tidak digambarkan dalam mukjizat. Mukjizat mungkin perlu untuk orang zaman dulu, tapi tidak perlu untuk orang saat ini, yang sudah mengikuti kitab suci dengan cara yang benar.

Kedua, hal tersebut menunjukkan betapa isu praktis yang sentral dalam agama, terutama dalam kaitannya dengan dimensi spiritualitas,  terkait erat dengan isu-isu kehidupan dan kemanusiaan. Bahkan kesufian lebih ditandakan dengan khidmat kepada manusia. Dengan ini urusan kewalian, kesufian, atau tingkat intensitas kesadaran spiritualitas yang dijalani seseorang  mestinya diukur dari buahnya, akhlaknya, bukan hanya akhlak individualnya tapi akhlak sosialnya.

Pengalaman Religius

Dalam mengaji pengalaman terhubungnya kesadaran seseorang wilayah kesadaran yang lebih tinggi, dapat ditemukan setidaknya beberapa istilah yang saling terkait, bahkan kadang dipertukarkan, antara lain pengalaman religius, pengalaman spiritual, dan pengalaman mistis. Ketiganya mungkin meski selalu difahami dengan pengertian yang sama, namun tidak selalu demikian. Setiap istilah memiliki penekanan arti yang berbeda dari yang lain. Dengan pembedaan ini, kita dapat mengatakan seseorang yang tidak beragama mungkin mengalami apa yang disebut pengalaman mistis. Misalnya jika merujuk pada definisi W. Stace mengenai pengalaman mistis ekstrovertif, seseorang semisal J.P Sarte, yang sebetulnya ateis, pun dapat dianggap mengalami pengalaman mistis saat menyaksikan benda-benda di sekitarnya tiba-tiba menghilang menjadi apa yang ia istilahkan sebagai kesatuanluminous.  Pengalaman ini diabadikan dalam bukunya Dianordia? Mungkin pengalaman seorang ateis-eksistensialis semisal  J.P. Sartre demikian bukanlah apa yang di namakan W. Stace  pengalaman religius introvertif, namun hal tersebut per definisi merupakan pengalaman mistik yang esktrovertif,  di mana setiap orang mungkin mengalaminya. Contoh lain dari pengalaman mistis ekstovertif, misalnya sebagaimana dialami seorang fisikawan Fritjof Capra, sebagaimana dalam bukunyathe Tao of Physics, didapati bagaimana dia akhirnya berhasil melihat kaitan dan paralelisme antara konsep-konsep fisika modern dan konsep-konsep dalam Taoism, itu kan sama, perdefinisi sama dengan apa yang w. stace katakana sebagai pengalaman religius ekstrovertif. Dengan demikian mengikuti definisinya W. Stace,  pengalaman Sartre sebagaimana digambarkan dalam bukunya Dianordia , demikian pula Capra, dan banyak orang tanpa merujuk apa agamanya yang dianutnya, atau bahkan tidak beragama sama sekali pun dapat mengalami pengalaman mistik semacam itu, yaitu pengalaman mistik esktrovertif.

Adapun pengalaman religius, biasanya difahami sebagai pengalaman akan keadaran atas kehadiran yang Ilahi, meskipun apa "yang Ilahi” tersebut merupakan wilayah diskusi yang tiada habis-habisnya. Terkadang tuhan dilihat lebih sebagai sosok personal. Tuhan itu dikatakan sebagai laysa kamistlihi syai,transenden yang tak terlukiskan. Raden Ronggwarsito mengatakan Tuhan sebagai suwung sajatining isi, hampa meskipun sejatinya pada hakikatnya Dia ada. Dalam hal ini kita tidak bisa berbicara tentang Tuhan kecuali dengan peristilahan yang paradoks semisal, tuhan itu kosong tapi ada, ada tapi kosong. Kalo dikatakan Tuhan ada, pada saat yang sama kita mesti tidak berfikir wujud keberadaan Tuhan. Namun sebaliknya, mengatakan Tuhan ksong tanpa juga mengatakan Dia eksis, berarti dia tidak eksis.

Dengan demikian maksud istilah pengalaman "berjumpa dengan yang Ilahi” pun merupakan objek diskusi yang panjang. Dapat saja pengalaman mencinta, misalnya, perasaan cinta yang suci dianggap sebagai pengalaman religius, jika memang Tuhan didefinisikan sebagai cinta, misalnya. Dalam hal ini setiap cinta yang kita inginkan kepada seseorang , dan itu didasari keinginan untuk memberi daripada menuntut, maka itu boleh saja diartikan suatu pengalaman yang bersifat religius.

Adapun pengalaman spiritual, merupakan yaitu bentuk lain yang lebih khusus dari pengalaman religius dan mistis. Hal ini karena penekanannya lebih kkhusus kepada spirit atau ruh sebagai salah satu fakultas kesadaran manusia yang lebih tinggi.

Pengalaman Spiritual, Mistik dan Religius: Persfektif Epistemologi Islam

Dalam epistemologi Islam, khususnya dalam filsafat hikmah al-mutaaliyah danisyraqiyah, pengalaman religius, mistik dan spiritual, biasanya dikaitkan dengan jenis pengetahuan tertentu yang biasanya disebut ilmu huduri (presentasional knowledge/pengetahuan dengan kehadiran), yaitu pengetahuan atas sesuatu secara eksistensial. Dengan demikian, mengetahui dalam modus ini sama dengan mengada, atau pengetahuan ini sama dengan existent. Modus pengetahuan Ilmu hudhuri tidak bersifat representasional. Karena itu modus pengetahuan ini dibedakan dengan modus pengetahuan yang disebut ilmu hushuli, yaitu pengetahuan yang sifatnya represantasional.

Adapun terkait persoalan verifikasi dalam pengalaman mistik, atau religius semacam ini, Mehdi Hairi Yazdi, seorang filosof Iran kontemporer, mengklasifikasikan pengalaman mistis dalam tiga level:

1. Pengalaman mistis atau religius itu sendiri, sifatnya tidak terperikan, tidak terlukiskan, inaffable.

2. Bahasa mistisisme,  yaitu ekspresi yang muncul dari pengalaman mistisisme tersebut.

3. Meta-mistisisme, ilmu tentang tasawuf, atau ilmu tentang mistisime. Yaitu penyelidikan diskursif analitik terhadap mistisisme dan pengalaman mistik itu sendiri.

Pengetahuan pada tingkat pertama, yaitu tingkat pengalaman mistis itu sendiri, bukan wilayah aplikasi kategori benar dan salah. Hal ini karena objek pengatahuan dalam tingkat pengalaman bersifat imanen, bukan transitif. Misalkan dalam pengalaman kita melihat warna putih, pengalaman akan kesan putih itu sendiri tidak bisa disalahkan. Yang dipersoalkan benar atau salahnya bukanlah pengalaman tu sendiri melainkan persepsi kita terhadap sesuatu yang ditangkap sebagai putih.  Objek pengetahuan dalam pengalaman bersifat ineffable. Apa yang dibicarakan bukan pengalaman itu sendiri, melainkan persepsi kita mengenai pengalaman itu.

Pada tingkat kedua, yaitu bahasa mistisime. Ajaran Ibn Arabi termasuk pada level ini. Pada tingkat ini, kategori benar salah dapat diterapkan karena terkait ekspresi secara diskursif dan logis, atau ekspresi dalam bentuk proposisi terhadap suatu pengalaman mistis. Karena di sini adalah wilayah perumusan logis, melibatkan interpretasi rasional, maka munculnya perdebatan dimungkinkan.

Dalam filsafat Islam, dikenal Mulla Sadra dan Suhrawardi. Keduanya merupakan filsosof besar. Mulla Sadra dianggap pendukung ashalah wujud (prinsipalotas eksistensi), dan Suhrawardi dianggap mempercayai ashalah mahiyah (prinsipalitas quiditas), meskipun muncul pula pendapat bahwa keduanya sebenarnya berpendapat sama. Namun andaikan keduanya memang bertantangan, meskipun keduanya selain filosof juga merupakan sufi besar yang sama-sama mengenyam pengalaman mistis, keduanya justru saling bertentangan.

Dalam hal ini pertentangan, penting dicatat bahwa pertentangan kedua tokoh besar tersebut terjadi dalam modus pengetahuan tingkat kedua, bukan level pertama.  Pegalaman mistik mereka sendirinya tidak bisa disalahkan atau dibetulkan sebagai pengalaman yang otentik. Ketika pengalaman ini diturunkan kepada level pengetahuan kedua yaitu bahasa mistisisme, situ kategori benar dan salah mulai dapat diterapkan. Demikianlah pertentangan dikalangan para sufi terjadi pada level kedua itu, yaitu dalam wilayah bahasa mistisisme yang mereka gunakan. Pada tingkat inilah tepatnya verifikasi dapat dilakukan. Jadi yang dilakukan para filosof illuminasionis tidak lain melakukan verifikasi pada level ekspresi mistis di mana bahasa proporsional mulai dirumuskan dan digunakan dengan mempercayakan pada pendekatan yang diskursif, logis, dan sebagainya.

Sebagai perbandingan singkat, dalam khazahah filsafat sains,  penemuan suatu pengetahuan biasanya diklasifikasikan dalam dua konteks, yaitu cotext of discovery (COD) dan context of justification (COJ). Yang pertama COD, yaitu konteks ketika suatu pengetahuan ditemukan, atau konteks penemuan itu sendiri. Level kedua setelah konteks penemuan adalah COJ, di mana teori keilmuan suatu pengetahuan dirumuskan dalam konteks ini. Seringkali penemuan saintifik muncul dengan cara-cara yang sama sekali tidak ilmiah, dalam arti demonstrasional. Misalnya penemuan rumus kimia organic Benzena oleh riedrich August Kekule. Mulanya, penemunya hanya mengetahui rumus kimia anorganik non sirkular. Ada beberapa versi cerita yang menceritakan proses penemuan Benzena. Salah satu versi yang diyakini kebenarannya adalah bahwa pada suatu malam di tahun 1865 Kekule tertidur di dekat perapian. Kekule melihat ular bergerak menari-nari. Tiba-tiba bagian ekor dari ular itu bersambungan dengan kepalanya, maka terjadilah gelang rantai yang terus berputar-putar. Mimpi ini memberinya inspirasi pada saat dia terbangun untuk meneliti bentuk kimia organic sirkular yang pada akhirnya membawanya kepada penemuan rumus kimia Benzena. Temuan di atas hanya salah satu contoh, dari sekian banyak contoh lain temuan-temuan ilmuah yang dari COD sama sekali tidak dapat dikatakan ilmiah. Persoalan ilmiah dan tidak ilmiah tidak berada pada wilayah konteks pengalaman menemukan, melainkan bagaimana penemuan ini dirumuskan.

Dengan cara semacam itulah kiranya bagaimana filsafat Islam sejak lama memperlakukan mistisisme secara proporsional. Dalam hal ini yang dipersoalkan bukanlah darimana wali ini, orang itu, memperoleh pengalaman mistisnya. Filsafat Islam melakukan verifikasi terhadap misitisme pada level kedua itu, yaitu bahasa mistisisme sebagai wilayah aplikasi pendekatan rasional atau analisis logis dan diskursif.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, sebagaimana dirangkum oleh mmoderator, Muhammad Bagir, bahwa dalam persfektif Islam, tidak ada jaminan bahwa sesuatu yangextraordinary merupakan wujud dari suatu pengalaman spiritual. Ada atau tidaknya fenomena luar biasa bukanlah tema utama dalam pengalaman spiritual. Inti utama dari pengalaman spiritual adalah empati, kepedulian akan yang lain. Meskipun dalam isu menegnai kenabian, teologi Islam sendiri dan ilmu kalam menjadikan aspek mukjizat sebagai a proov of prophethood,  namun titik berat kepada aspekextraordinary bukanlah faktor utama. Mengenai karakter teologi, bahasa teologi adalah bahasa mayoritas. Dalam pola fikir mayoritas, awam, sesuatu baru menjadi bukti bagi sesuatu yang besar jika itu merupakan hal yang luar biasa. Pola fikir mayoritas melihat agama harus sebagai sesuatu yang luar biasa. Seandainya biasa-biasa, maka tidak dianggap agama. Padahal sebenarnya agama itu menampakkan dirinya dalam kehidupan kita yang biasa-biasa, mengalir di antara banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah yang patut disadari.

Hal lain yang penting digarisbawahi adalah mengenai dua konteks ilmu, context of discovery (COD) dan context of justification (COJ). Dengan kategori tersebut, pengalaman seseorang, atau context of discovery (COD)  dalam filsafat ilmu, tidak bisa disalahkan, atau menjadi objek verifikasi. Namun selangkah dia mengekspresikan pengalaman tersebut,  maka dia masuk kepada wilayah yang dalam bahasa filsafat ilmu disebut  context of justification (COJ) yang bisa difalsifikasi, dibuktikan benar dan salahnya melalui analisis logis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *