Bedah Buku “Kalam Jadid: Pendekatan Baru dalam Isu-Isu Agama”

Bedah Buku “Kalam Jadid: Pendekatan Baru dalam Isu-Isu Agama”

Sabtu, 28 Juni 2014 jam 10.00, Sadra Press bekerjasama dengan Lingkar Studi Theosophia mengadakan bedah buku “Kalam Jadid: Pendekatan Baru dalam Isu-Isu Agama” karya Dr. Hasan Yusufian. Buku ini merupakan terjemahan dari kitab “Kalam Jadid”.

Bertempat di Auditorium STFI Sadra, hadir sebagai pembicara pada acara ini adalah Dr. Husain Heriyanto, penulis dan peneliti kajian Agama, dan Akmal Kamil M.A. selaku editor buku ini serta Muhammad Nur Jabir M.A, sebagai moderatornya.

Dalam pembukaanya, moderator menjelaskan bahwa Buku “Kalam Jadid: Pendekatan Baru dalam Isu-Isu Agama” merupakan buku Daras, sebagaimana penulis buku ini juga menyebutnya demikian. Menurutnya, “Jika sebelumnya kita memiliki buku Daras Filsafat Islam, maka kini kita telah memiliki buku Daras Kalam Jadid yang diterbitkan Sadra Press. Dalam konteks Indonesia, Kalam Jadid masih belum mendapatkan tempat yang semestinya, kendati pembahasannya banyak dan wacananya senantiasa digulirkan.”

Senada dengan pernyataan di atas, dalam kesempatan tersebut, Dr. Husain menyatakan bahwa sebetulnya pembicaraan mengenai Kalam Jadid dalam konteks tema adalah sebuah hal yang kita bicarakan setiap hari, sesuatu yang tidak asing sebetulnya yang kita hadapi sehari-hari terkait isu-isu keagaamaan, spiritualitas, relasi agama dan politik, sekularisme, liberalisme, teori evolusi, dan lain-lain. Sehingga dapat kita katakan, “tiada hari tanpa Kalam Jadid”.

Dr. Husain melanjutkan, “Sebagai bidang studi, Kalam Jadid memang relatif baru, tetapi sebagai sebuah bahan pemikiran, ia adalah sesuatu yang sudah lama. Ada Ahmad Khan, Abduh, Muthahhari, Harun Nasution, dan H.M. Rasyidi misalnya, yang berkecimpung dengan isu-isu Kalam Jadid.”

Perlu diperhatikan bahwa pada masa kini, terdapat kebutuhan untuk menjawab secara filosofis persoalan-persoalan yang muncul, dan tidak sekedar dialektik. Karena itu, menurut Dr. Husain, “Gugatan orang-orang ateis tidak mungkin dijawab dari sudut ilmu Kalam. Kalam Klasik banyak diwarnai dengan pertentangan dengan internal Islam, meskipun ada juga isu-isu eksternal [yang dibahas], misalnya krinitas.”

Menurut doktor di bidang filsafat ini, secara keilmuan, teologi membutuhkan Filsafat, sebagaimana Sains juga membutuhkan Filsafat. “Ada konvergensi antara Sains, Teologi, dan Filsafat. Filsafat di sini berperan sebagai bahasa yang menjembatani antara kedua ilmu ini. Maka dari itu, penulis buku ini, Dr. Hasan Yusufian menyebutkan bahwa yang dia maksud Kalam Jadid adalah filsafat agama. Meskipun, menurut hemat saya, filsafat agama sepenuhnya menggunakan argumen demonstratif, karena merupakan bagian dari filsafat. Sedangkan, Kalam menggunakan argumen demonstratif plus argumen dari al-Qur’an, meskipun argumen al-Qur’an mungkin lebih digunakan sebagai premis mayor, di mana dalam proses pengambilan kesimpulannya memerlukan peran akal.”

Secara metodologis Kalam Jadid bisa disebut sebagai Filsafat Agama, tapi dari context of  discovery (latar belakang)-nya, ia termasuk Kalam. Dalam hermeneutika modern, hal tersebut sah-sah saja, yakni menggunakan pengalaman agama sebagai sumber refleksi dalam persoalan tertentu, tetapi tidak dalam konteks membangun atau menjustifikasi suatu argumen.

Penulis sendiri telah menguraikan dengan jelas istilah Kalam Jadid. Dan penjelasan tersebut dieksplorasi lebih jauh oleh pembicara lainnya, Akmal Kamil. Dia menyatakan bahwa istilah Kalam Jadid pertama kali diperkenalkan dalam Khazanah pemikiran Islam Sunni oleh Syibli Nu’mani, sedangkan dalam pemikiran Syiah diperkenalkan oleh Murtadha Muthahhari. Dari keduanya, para pemikir Muslim mulai berfikir untuk mengkonstruksi Kalam Jadid dengan memperhatikan masalah-masalah baru dalam Teologi. Misalnya, sebab-sebab kemunculan Agama, wahyu, bahasa agama, ilham, dalil-dalil pembuktian wujud Tuhan, imamah dan lain-lain.

Akmal menerangkan bahwa memang ada sebagian pemikir yang menyikapi Kalam Jadid dengan underestimate dan menganggapnya sebagai pelecehan terhadap Teologi Islam. Alasannya karena Kalam Jadid dianggap sebagai produk alih Bahasa dari terma Teologi Modern (Modern Theology) yang di-introdusir oleh Barat sebagai sikap terhadap lahirnya keragu-raguan baru dalam masalah Teologi.

Menurut Akmal, istilah “jadid” pada istilah “Kalam Jadid” tidak ditujukan pada aspek waktu, tetapi lebih pada persoalan-persoalan atau pendekatan-pendekatan baru dalam teologi. Karena itu, judul buku ini dalam edisi bahasa Indonesia “Kalam Jadid: Pendekatan Baru dalam Isu-Isu Agama” sudah tepat.

Mengenai tujuan ditulisnya buku ini, Akmal—dengan mengutip keterangan penulis—menyebutkan bahwa “Tidak ditulis hanya sebagai buku daras, tetapi juga agar kita akrab dengan isu-isu baru yang berasal dari Barat.” Dia melanjutkan, “Setiap pelajaran dari buku ini mengajak kita senantiasa terlibat dengan adanya bagian ‘Pikirkan dan Diskusikan!’, ‘Kesimpulan’ dan ‘Pertanyaan’. Sangat filsafat sebagaimana menurut Muthahhari, filsafat adalah Ilmu yang mengajak kita untuk berpikir. Buku ini adalah buku yang diberi penghargaan sebagai buku terbaik oleh Hawzah Ilmiah Qum. Banyak buku yang terbaik, tetapi hanya buku ini yang dipilih sebagai buku terbaik.”

Acara bedah buku ini dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi STFI Sadra, aktivis, dan kalangan di luar kampus. Di akhir acara, panitia memberikan enam buku sebagai hadiah bagi lima penanya terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *