Wawancara dengan Dr Ammar Fauzi: Peran dan Fungsi Filsafat Islam di Indonesia  

Wawancara dengan Dr Ammar Fauzi: Peran dan Fungsi Filsafat Islam di Indonesia  

 

IMG_9082“Filsafat sebagai sebuah tradisi yang terus berkembang adalah identitas ilmu yang mempelajari hakikat. Hakikat adalah lapisan di balik permukaan, atau bisa disebut juga dengan realitas. Filsafatlah yang mewakili realitas. Kemudian filsafat berasal dari dua kata, yaitu philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti pengetahuan. Jadi, filsafat adalah cinta pengetahuan, cinta nilai-nilai kebenaran (aspek teoritis), dan cinta nilai-nilai kebaikan (aspek praksis).”

“Dalam sejarahnya, nilai filsafat digagas oleh Socrates dalam posisi reaktif yang berkembang pada saat itu, yaitu untuk melawan Sofisme yang pragmatis dan politis. Socrates datang untuk menyindir mereka bahwa saya bukan Sofis, tapi adalah orang yang mencintai kebijaksanaan. Namun sekarang, unsur cinta dari filsafat itu diabaikan. Filsafat dimulai oleh Giorgias yang mengkaji ontologis (masa klasik), kemudian epistemologis (masa pertengahan), dan berakhir analisis bahasa (masa modern).”

Penggalan wawancara dengan Dr Ammar Fauzi, Deputy Riset STFI Sadra yang dilakukan oleh Ayu Lestari, S.Ud tim media Sadra International Institute menandaskan peran dan fungsi vital filsafat sebagai sebuah disiplin yang harus dipelajari dan dikaji terus menerus dalam rangka membangun hidup yang berkualitas dan sebuah peradaban. Berikut petikan wawancaranya

Ilmu Filsafat dalam pandangan Dr. Amar Fauzi itu ilmu yang bagaimana? Apakah keberadaan ilmu ini sangat urgen untuk masyarakat modern saat ini?

Filsafat sebagai sebuah tradisi yang terus berkembang adalah identitas ilmu yang mempelajari hakikat. Hakikat adalah lapisan di balik permukaan, atau bisa disebut juga dengan realitas. Filsafatlah yang mewakili realitas. Kemudian filsafat berasal dari dua kata, yaitu philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti pengetahuan. Jadi, filsafat adalah cinta pengetahuan, cinta nilai-nilai kebenaran (aspek teoritis), dan cinta nilai-nilai kebaikan (aspek praksis).

Dalam sejarahnya, nilai filsafat digagas oleh Socrates dalam posisi reaktif yang berkembang pada saat itu, yaitu untuk melawan Sofisme yang pragmatis dan politis. Socrates datang untuk menyindir mereka bahwa saya bukan Sofis, tapi adalah orang yang mencintai kebijaksanaan. Namun sekarang, unsur cinta dari filsafat itu diabaikan. Filsafat dimulai oleh Giorgias yang mengkaji ontologis (masa klasik), kemudian epistemologis (masa pertengahan), dan berakhir analisis bahasa (masa modern).

Baik di Barat maupun di Islam, filsafat fokus pada kebijaksanaan sebagai ilmu bukan sebagai cinta. Filsafat bukan semata mata bagaimana kita berargumentasi, tetapi untuk menjadi alat untuk menanamkan aspek cinta yang sebetulnya sudah ada dalam nama filsafat sendiri, seperti Ibn Sina dalam kitabnya berjudul Isyarat wa Tanbihat yang memasukkan aspek cinta melalui iradah sebagai tahap awal tingkatan sufi pada bagian bab 9 (maqamatul ‘arifin).

Permasalahan filsafat itu urgen atau tidak, bisa dilihat dari 2 aspek, yaitu pengetahuan dan cinta. Nilai urgensitas tidak dibatasi era tertentu. Bukan berarti filsafat adalah satu-satunya nilai yang bisa menyelesaikan problem setiap zaman. Filsafat urgen dalam posisinya sebagai syarat perlu untuk masyarakat modern. Tapi manusia masih punya perangkat perangkat lain untuk kehidupannya. Filsafat sebagai sebuah ilmu yang berbicara tentang asal usul realitas dan akhir realitas tentu sangat dibutuhkan oleh masyarakat manapun.

Menurut Immanuel Kant, filsafat bisa didefinisikan dalam 3 pertanyaan, yaitu Apa yang bisa kita ketahui?, Apa yang bisa diharapkan?, dan Apa yang bisa direalisasikan?. Saya kira ini relevan untuk tetap diangkat di dunia kontemporer yang dihadapkan banyak krisis, yaitu krisis intelektual, krisis identitas, krisis lingkungan, krisis moral, bahkan krisis sosial politik. Filsafat memiliki peluang untuk turut serta dalam memecahkan persoalan atau krisis tersebut.

 

Terkait dengan ilmu filsafat islam apakah dalam konteks Indonesia, ilmu yang satu ini diterima baik di kalangan masyarakat muslim Indonesia?

Dibandingkan ilmu-ilmu lain, filsafat secara umum tidak memperoleh posisi yang lebih baik. Ini bisa diamati dari sisi bagaimana konsentrasi para penyelenggara pendidikan tinggi yang tidak semua dari mereka menyediakan prodi filsafat. Kajian filsafat bahkan secara intensif dilakukan di luar perguruan tinggi. Padahal filsafat kaya dengan kandungan-kandungan lokal daerah, tasawuf, dan lainnya. Kemudian karya-karya filsafat pun tidak begitu marak sebagaimana bidang-bidang lain. Padahal sebetulnya jika kita amati, pancasila negara kita memuat konsep-konsep filsafat, seperti ketuhanan, keadilan, dan kebijaksanaan. Ini menjadi peluang kita untuk mengeksplorasi dasar negara Indonesia secara filosofis. Namun sekarang muncul filsafat pancasila dan filsafat nusantara. Kondisi seperti ini memungkinkan munculnya filsafat islam di Indonesia.

Pertumbuhan filsafat Islam di Indonesia naik turun. Era 80-an, di kalangan mahasiswa cukup marak. Buku atau jurnal secara ekslusif dicetak untuk makalah filsafat, kemudian meredup kembali. Lalu kini setelah era reformasi ada semangat baru lagi untuk studi filosofis dengan berdirinya STFI Sadra dan ICAS yang bekerjasama dengan Paramadina. Ini menjadi bukti konkrit yang serius dan sistemik untuk pengembangan filsafat di tanah air.

 

Apa kendala dan tantangan besar di ajarkannya filsafat islam di kampus islam Indonesia? Dan seperti apa hasil (outcome) yang diharapkan dari kajian filsafat islam?

Tantangan pertama adalah sikap sinisme (ketidakpedulian). Sejak Socrates muncul menyatakan dirinya sebagai filosof, sikap sinis muncul dari masyarakat terhadap filsafat dan kaum filosof. Ternyata ini mengakar sampai sekarang. Sehingga muncul keputusasaan dengan berbagai faktor (penghalang perkembangan filsafat). Yaitu:

  1. Adanya keterbatasan sumber filsafat
  2. Tingkat kerumitan filsafat. Dalam hal ini bagaimana filsafat harus dijelaskan secara mudah dan tidak rumit lagi.
  3. Tradisi keagamaan sebagian orang yang menentang filsafat

Kondisi ini, seolah olah ketika belajar filsafat, orang akan mengarah kepada pengingkaran terhadap Tuhan dan mengurangi komitmen terhadap pengamalan syariat agama. Di berbagai Perguruan Tinggi, prodi filsafat sempat dilarang dibuka kembali karena melihat sebagian mahasiswa prodi filsafat memiliki kecenderungan ke arah Ateis dan berperilaku lancang terhadap kesucian agama. Faktor ini semata-mata dipersepsikan karena filsafat, padahal tidak sepenuhnya karena filsafat. Filsafat dijadikan kambing hitam. Mungkin ini secara tidak langsung terpengaruh oleh sikap Al-Ghazali yang merembas ke masyarakat muslim Indonesia. Sikap Al-Ghazali yang melawan filsafat dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. Meskipun setelahnya, ada pembelaan Ibn Rusyd yang sangat konstruktif, tetapi tidak mengembalikan filsafat seperti sedia kala. Bukunya masih menjadi primadona dikalangan para peneliti.

Untuk mencapai hasil yang diharapkan, dimulai dari bagaimana mengatasi kendala-kendala yang dihadapi. Ketiadaan kendala menjadi faktor terwujudnya hasil yang diharapkan. Dari sini, hasil yang ingin diharapkan adalah menumbuhkan tradisi kritis atau mendudukkan persoalan secara tajam, dan menganalisis secara jernih untuk mencapai solusi sebaik mungkin terhadap segala persoalan di kehidupan.

 

Bagaimana cara mengajarkan filsafat Islam sebagai media untuk mencetak peradaban?

Filsafat adalah bagian dari peradaban dan pilar utama dari peradaban. Berangkat dari metode filsafat, yaitu rasio atau akal. Tanpa akal, peradaban tidak akan berdiri tegak. Oleh karena itu, jatuh bangunnya peradaban bisa dilacak dari seberapa besar berpikir filosofis itu berkembang. Peradaban dicirikan dengan perkembangan ekonomi, sains, dan teknologi. Negara-negara yang maju di bidang ini sebenarnya mereka tidak pernah meninggakan tradisi filsafat khas yang mereka ikuti. Filsafat islam sangat berpeluang untuk berkontribusi di Indonesia karena ada banyak aspek kesenyawaan dengan lokal daerah, utamanya aspek sejarah dan tradisi bangsa Indonesia sebagian besar muslim. Tinggal bagaimana filsafat islam secara nyata bisa berkontribusi dengan pembangunan peradaban.

Caranya adalah salah satunya dengan pola pengajaran. Kontribusi filsafat akan bergantung kepada metode pengajaran. Cara pengajaran dan penelaahan filsafat akan menentukan hasilnya. Kendala kerumitan filsafat dapat diminimalisasi dengan pola pengajaran filsafat yang baik. Hal yang paling penting dari pola pengajaran adalah pengajar (subjek). Dalam tradisi filsafat islam, suatu kelas hanya akan dibuka apabila ada ahli filsafat di dalamnya, bukan ada kelas dahulu kemudian baru dicarikan ahlinya. Hal ini akan berdampak tidak maksimal terhadap pengajaran filsafat yang sudah terkesan rumit tersebut. Di sebagian jenjang Perguruan Tinggi, kita temukan bagaimana program pendidikan dimulai dengan membuka prodi kemudian membuka penerimaan, lalu merekrut dosen. Seharusnya ketersediaan dosen adalah hal yang paling utama dan dahulu dilakukan. Dimana ada dosen ahli, di situ ada kelas. Jadi yang berperan penting adalah ahli filsafat islam yang menguasai fisafat islam yang menjadi pelaku sentral untuk mengembangkan filsafat islam.

 

Apa fungsi filsafat islam untuk masyarakat muslim modern?

Pada umumnya, seseorang sebelum memulai belajar filsafat, dia akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai beberapa tema, diantaranya tentang subjek utama fisafat, kemudian sejarah singkat filsafat, para tokoh penggagas filsafat, dan tujuan serta manfaat filsafat. Saat filsafat berkembang, ada motivasi politis maupun teologis. Pada motivasi teologis inilah filsafat islam bisa berkontribusi terhadap masyarakat muslim modern. Isu-isu yang berkenaan dengan masyarakat muslim, seperti tentang keberadaan tuhan, pluralisme agama, dan tema-tema yang diusung oleh filsafat agama berkembang sangat pesat. Isu-isu ini bisa ditangani secara filosofis. Begitu juga dengan persoalan praktis, seperti persoalan ekosistem yang bisa diselesaikan dengan pendekatan filosofis (argumenatsi logis yang bisa dipahami oleh masyarakat). [SAINS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *