Wawancara dengan Dr Husain Heriyanto: “Teks dan Aksi dalam Agama, Filsafat dan Ilmu-ilmu Manusia Menuju Kebangkitan Islam.”

Wawancara dengan Dr Husain Heriyanto: “Teks dan Aksi dalam Agama, Filsafat dan Ilmu-ilmu Manusia Menuju Kebangkitan Islam.”

IMG_8030Setelah sukses dengan seminar internasional Islamic Conference of Thought and Islamic Sciences (IC Thusi ) ke II yang diselenggarakan di BPPT Menristek-Dikti pada tahun 2015 silam, Ketua Panitia IC Thusi Ke III Dr.Husein Heriyanto, MA sekali lagi membuat gagasan dan tema baru terkait dengan dilanjutkannya seminar international IC Thusi ke III tahun 2016 ini. Ide dan gagasan utama dari IC Thusi III tersebut mengambil judul yang berbeda dari sebelumnya. Seperti biasa sebelum acara puncak dari seminar utama IC Thusi III diselenggarakan, ada beberapa agenda dan program kegiatan pre-seminar IC Thusi di berbagai tempat.

Dalam agenda pre seminar pertama dari rangkaian seminar IC Thusi III di laksanakan seminar yang mengambil tema : “Dialektika Teks dan Aksi dalam Agama, Filsafat dan ilmu-ilmu manusia menuju kebangkitan Islam”  yang diselenggarakan di Ruang Meeting Lantai 4, Sadra Institute/STFI Sadra, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, tim redaksi SAINS melakukan wawancara dengan Dr.Husein Heriyanto,MA, selaku Ketua IC Thusi terkait dengan pelaksanaan acara, berikut petikan wawancaranya :

Terkait dengan tema “ Teks dan Aksi dalam Agama, Filsafat dan Ilmu-ilmu Manusia Menuju Kebangkitan Islam” untuk Ic Thusi ke III apa alasannya? Bisa dijelaskan latar belakangnya?

Sebenarnya tema ini merupakan tema untuk seminar pra Konferensi bukan tema untuk konferensi Ic Thusi III jadi sebelumnya harus di bedakan antara konferensi dan seminar. untuk tema konferensi sendiri sebenarnya adalah teori dan praktis. Kenapa saya memilih tema ini “ karena untuk mendialogkan antara teks dan tindakan untuk menselaraskan dan mengharmoniskan, antara teks dan tindakan itu serasi, contohnya  seperti  teks-teks keagamaan yang di dalamnya terkandung akhlakul karimah dan berfikir kritis membela kebenaran, dan dalam tindakan kita juga harus seperti itu. (selaras maksudnya). Bagaimana kita menyelaraskan teks itu dengan kehidupan sehari-hari jadi tidak hanya  sekedar teks tetapi juga ada tindakan. Filsafat juga demikian, filsafat juga bukan hanya sebagai way of knowing tetapi juga filsafat harus digunakan sebagai way of life kita . artinya filsafat digunakan sebagai salah satu horizon kita dalam bertindak. Karena dalam segi etimologi filsafat itu artinya cinta kebijaksanaan, kata kebijaksannan itu mengandung dua dimensi yakni dimensi teoritis dan dimensi praktis yang terkait dengan hikmah. Dimana salah satu fungsi filsafat adalah untuk memahami persoalan-persoalan kontemporer dan untuk memberikan kontribusi untuk membantu memecahkan masalah-masalah dan pandangan-pandangan misalkan tentang krisis kemanusiaan, krisis moralitas, tentu orang yang menekuni filsafat harus bisa merespon serta memberikan tawaran-tawaran gagasan-gagasan pemikiran menjelaskan persoalannya dan membantu memecahkan masalah apalagi terkait dengan moralitas manusia dan filsafat, sangat terkait dengan way of life  and way of understanding dan juga ilmu-ilmu manusia sosial. tentu saja sangat berkaitan dengan tindakan sosial manusia.

 

Apa Tujuan yang ingin dicapai dari konferensi Ic Thusi yang ke III ini? Sub-sub tema apa saja yang dijadikan acuan pada Ic Thusi kali ini?

Tujuan yang pertama yakni untuk menindak lanjuti kegiatan-kegiatan ilmiah yang sudah dilakukan selama 3 tahun lalu atau dua tahun lebih, yang kedua adalah berupaya untuk mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu-ilmu sosial humaniora (Human Sciences) dalam perspektif islam

Mengapa demikian? karena ilmu-ilmu sosial kontemporer teoritis mengalami krisis kecakapan secara praktis banyak yang sudah tidak relevan lagi karena ilmu-ilmu sosial ilmu manusia kontemporer banyak mengabaikan dimensi-dimensi dalam manusia : dimensi spiritualitas, dimensi moral dan bahkan intelektual. maka dari itu terjadilah krisis kemanusiaan dan krisis peradaban hari ini dan oleh karena itu umat islam sarjana muslim tentu perlu ikut menjawab persoalan-persoalan ini. Maka ilmu-ilmu humaniora yang berbasis islam ini diharapkan bisa mengembangkan ilmu-ilmu humaniora yang bisa mengadopsi nilai-nilai kemanusiaan , karena nilai-nilai kemanusiaan terkait erat dengan moralitas intelektualitas dan spiritualitas.

Sub sub tema yang akan dijadikan acuan pada Ic Thusi kali ini yang pertama adalah sesuai dengan grandtopic teori praktis yakni yang secara teori bagaimana dilapangan mengkaji sosiologi profetik, psikologis spiritual dan antropologi

juga merupakan pendorong sarjana muslim untuk melakukan penelitian dalam teori-teori ekonomi dan keritik yang sejalan dengan dunia islam dan juga teori-teori pendidikan serta juga untuk yang praktisnya untuk merespon problem-problem hari ini seperti kekerasan, ekstrimisme, terorisme, dilihat dari perspekti ilmu-ilmu kemanusiaan. Kemudian juga yang terkait dengan krisis moral terus ada apa yang disebut dengan revolusi mental hal ini pada dasarnya adalah fungsi karakter bagaimana islam bisa menawarkan satu gagasan baik dalam tataran teoritis maupun tataran praktis di dalam menjawab persoalan-persoalan masa kini.

 

Kendala dan tantangan dalam kegiatan seminar Ic Thusi ini apa saja?

Yang pertama akademisi muslim masih malas untuk menulis dan juga gejala atau penyakit orang dalam negri orang yang sudah professor itu kebanyakan malas nulis karena sudah merasa sudah jadi profesor tidak perlu nulis lagi sudah dapat gelar Mhum. Sedangkan di luar negeri seseorang yang sudah menjadi professor itu merasa punya tanggung jawab untuk mengambangkan keilmuan jadi perlu di kritik ;  bahwa di Indonesia sudah menjadi professor itu adalah capaian akhir padahal seharusnya professor itu harus senantiasa menghasilkan karya tulis dan melakukan penelitian karena menulis adalah bagian produk penelitian.

Sedangkan tantangan praktisnya adalah kordinasi, management, mengajak pihak-pihak yang akan membantu (sponsor), stokholder yang terlibat dalam hal ini sebenarnya banyak seperti media massa dan masyarakat juga semakin antusias untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut.

 

Terkait dengan makalah yang anda tulis tentang “ Konvergensi Arah Dinamika Peradaban Manusia dengan Perkembangan Ilmu-Ilmu Manusia : Urgensi Kehadiran Islam –Inspired Human Sciences. Apa yang hendak ingin disampaikan dalam makalah tersebut? 

Konvergensi ini artinya adalah titik temu, jadi  kita ingin menunjukan bahwa salah satu arah perkembangan peradaban manusia itu sejalan dengan tuntutan perkembangan ilmu-ilmu manusia artinya seperti yang saya tuliskan dalam makalah tersebut bagaimana ciri-ciri peradaban lebih bersifat mendekati soft culutre  Jika Kopler sendiri menyatakan proses peradaban manusia dimulai dari yang mudah yang terbagi menjadi 3 golongan peradaban  yang pertama era pertanian, kedua era industry, dan ketiga era informasi. Kalau kita lihat karakteristiknya kalau era pertanian itu sangat menekankan pada otot atau fisik sedangan era industri masih terkait dengan fisik namun ada upaya untuk merekayasa alam dengan pengetahuan dengan teknologi industri, teknologi ini berasal dari sains alam artinya sudah ada alam kedua tidak manusia sudah kuat. Yang ke tiga era informasi itu sudah lebih soft lagi karena sudah menekankan pada teknologi komunikasi yang mana makin kesin bahwa peran kognisi(peran mental) semakin tinggi di tuntut kehadirannya terlepas bahwa zaman hari ini banyak yang mengandalkan otot. tetapi bahwa infastruktur peradaban menuntut (kinerja akal) masyarakat kita agar lebih mengutamakan hal-hal yang sifatnya soft tadi misalnya masyarakat berbasis ilmu pengetahuan (knowledge base society) ada juga yg namanya economic base on knowledge  jadi pergerakan masyarakat itu bergerak kearah tuntutan pengembangan potensi fakultas manusia yang semakin soft dimana semakin abstrak termasuk juga dalam pengembangan ilmu-ilmu sains itu bagaimana perkembangan dari hard sciences menjadi soft sciences kalau di abad 17-18 ilmu-ilmu fisika diangap ratu sekarang ilmu-ilmu sosial lah yang sangat berperan dan dominan . misalya sekarang ini tinjauan secara biologis semestinya tidak ada orang yang mesti lapar karena teknologi pangan dan pertanian sudah maju tapi banyak orang kelaparan, masuklah pada persoalan sosial, persoalan keadilan, persoalan kemanusiaan, ada orang yang tidak perduli dengan sesame contoh lain adalah pencemaran lingkungan yang merupakan fisik namun jika kita amati bahwa itu merupakan cara manusia berfikir (soft) manusia dalam melihat alam, jadi bisa di pahami bahwa persoalan alam ini merupakan persoalan yang bersifat antropogenik yakni bersifat (berakar dari perilaku manusia itu sendiri). Dalam konteks persoalan masa kini yang membutuhkan penyelesaian masalah dengan kapasitas manusia yang lebih holistic (yang lebih mendalam) disinilah perannya tradisi islam para sarjana muslim harusnya ikut memberikan kontribusi mengembangkan ilmu ilmu manusia mengembangkan yang non positifistik dan non materialistik. Serta yang bisa mengadopsi kecakapan-kecakapan gaib manusia yakni  diantaranya kecakapan khas manusia yakni moralitas ,  intelektualitas dan spiritualitas yang selama ini diabaikan oleh ilmu –ilmu manusia sosial kontemporer, dan juga bersifat holistic komperhensif dalam ilmu sosial kontemporer ini juga banyak keritik dari dalam ada kelompok post strukturalis, post positivisme, jadi dalam ilmu manusia sosial kontemporer ini juga sedang membangun paradigma baru.

 

Apakah anda optimis seminar Ic Thusi ini bisa diterima dengan baik kedepannya, artinya sepanjang tahun Ic Thusi bisa eksis kedepannya.. bagaimana menurut anda?

Kalau secara saintifik isu ini akan long life atau terus eksis dan terus bergulir karena memang dibutuhkan oleh umat manusia dan juga sarjana muslim, secara umum dibutuhkan oleh umat manusia secara khusus merupakan medium bagi para sarjana muslim dan para akademisi, peneliti, pemikir islam, ulama, untuk mengembangkan penelitian-penelitian yang berdasarkan pengalaman masyarakat sendiri dalam konteks mengembangkan ilmu-ilmu manusia dalam konteks sosiologi, kita tidak bisa selalu mengandalkan pada hasil penelitian orang lain kita sendiri  juga harus mengambangkan penelitian. Jadi secara saintifik saya yakin isu ini akan longlife tetapi secara lembaga kita belum tahu.

 

Dr.Husein Heriyanto, MA. Pria kelahiran Padang Sumatera Barat, merupakan alumnus Doktor Filsafat dari Universitas Indonesia (UI) Depok. Aktifitasnya sebagai staf pengajar di berbagai kampus di Jakarta seperti  Universitas Indonesia Depok, Universitas Paramadina dan STFI Sadra. Dikenal sebagai ahli filsafat islam dan barat sekaligus penggagas utama dari kegiatan seminar international Islamic Conference of Thought and Humanities in Islamic Sciences (IC-Thusi ) yang telah memasuki musim ke -3. Mantan Aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) UI ini juga telah menghasilkan beberapa karya tulisan baik dalam surat kabar, jurnal ilmiah dan buku, diantaranya : Revolusi Saintifik Iran (2002), Membincangkan Manusia Sebagai Strategi Deradikalisasi Pemahaman Agama ( Harian Pelita 2015).Lewat gagasan bernas nya tersebut beliau sering diundang untuk menjadi narasumber di berbagai seminar dalam dan luar negeri. [A-SAINS NEWS]

1 Comment

  • thbanks for the great info

    Grady Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *