Masa Depan Ilmu Ekonomi Islam Dalam Konteks Keindonesiaan

Masa Depan Ilmu Ekonomi Islam Dalam Konteks Keindonesiaan

Purkon HidayatPersoalan ekonomi adalah salah satu persoalan penting yang ada dalam kehidupan manusia, sebagai invidu atau pun sebagai kelompok (bangsa). Bahkan kekuatan suatu bangsa, sangat ditentukan dengan kuatnya ekonomi bangsa tersebut. Apabila, perekenomian suatu bangsa dibangun dengan sistem ekonomi yang bagus, maka maju dan berkembanglah bangsa tersebut. Sebaliknya, apabila suatu bangsa dibangun dengan sistem ekonomi yang kurang bagus, maka akan mundur dan hancurlah bangsa tersebut.

Dewasa ini, banyak sistem ekonomi yang ditawarkan oleh para ekonom. Dua sistem ekonomi terkuat yang selalu mendominasi sistem ekonomi peradaban kontemporer adalah sistem ekonomi Barat yang kapitalis dan sistem ekonomi Timur yang marxis. Faktanya, dua sistem ekonomi di atas, belum mampu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ekonomi yang melanda umat manusia. Dalam konteks ini, maka muncullah sistem ekonomi Islam sebagai tawaran sistem ekonomi baru yang berusaha untuk menjawab kekurangan-kekurangan yang belum mampu diberikan oleh dua bangunan sistem ekonomi di atas. Dalam konteks ini pula, IC Thusi mengadakan Pre seminarnya tentang sistem ekonomi Islam yang diselenggarakan di Auditorium STFI Sadra dengan narasumbernya Purkon Hidayat, MA (Peneliti ICMES). Berikut adalah cuplikan hasil wawancara tim redaksi SAINS bersama Purkon Hidayat, MA.

 

Apakah Ekonomi Islam memiliki landasan hukum yang berdasar kepada al-Qur’an dan hadis Nabi atau hanya sekadar label saja untuk membedakan Ekonomi Islam dengan yang selain Islam?

 Saya melihat Ekonomi Islam dari perspektif filsafat. Ekonomi Islam itu memiliki beberapa model, ada yang bermodel etis, ada yang bermodel teologis-historis, dan yang ketiga bermodel elektik-gabungan. Saya secara pribadi tidak sepakat dengan model seperti ini. Artinya kita membangun ekonomi Islam yang berlandaskan kepada pokok-pokok dan nilai-nilai kemanusiaan. Kemudian apakah nilai-nilai tersebut akan kembali kepada nilai-nilai al-Qur’an? Tentu kembali kepada al-Qur’an, bukan hanya dalam context of justification, tetapi juga dalam context of discovery.

Teori Ekonomi, kalau merujuk pada Baqr Shadr, harus dipisahkan dari implikasi kapitalismenya. Harus ada pemurnian antara ilmu ekonomi dan kapitalisme. Ekonomi Islam itu memang memuat nilai-nilai al-Qur’an, tapi itu hanyalah nilai-nilai normatif saja. Inti yang mau sampaikan adalah basis ekonomi Islam yang bersifat realis. Basis ekonomi yang tetap memuat nilai-nilai al-Qur’an, namun harus jelas dimana letaknya.

 

Bagaimana praktik ekonomi Islam yang Anda gagas itu diaplikasikan?

Bagi saya, ekonomi harus memuat nilai-nilai keadilan, ketauhidan, dan tidak melakukan penindasan dalam hal produksi, konsumsi, dan distribusi. Dalam tataran aplikatif, nilai-nilai inilah yang sangat perlu untuk diperhatikan. Ini baru pada satu sisi saja. Artinya, banyak terdapat sisi yang perlu untuk diperhatikan, apabila kita ingin mempraktikkan Ekonomi Islam sebagai sebuah sistem.

Ada penjelasan Baqr Shadr yang cukup menarik, bagaimana Ekonomi Islam itu adalah perilaku tatanan dan nilai yang dijalankan dari aktivitas ekonomi sebuah masyarakat Muslim. Jadi, sebetulnya dia memiliki nilai sendiri. Definisi ini membuka sebuah kajian terhadap ruang-ruang yang ada di sekitar wacana-wacana ekonomi.

Maka dari itu, apabila kita berbicara tentang Ekonomi Islam, artinya kita tidak hanya persoalan yang normatif saja. Seperti, zakat. Zakat tidak hanya berbicara tentang zakat itu saja, tetapi juga berbicara tentang bagaimana zakat itu diberikan. Dengan cara demikian, kita tidak akan terjebak pada persoalan potret ‘kebun binatang’. Maksudnya bahwa manusia nantinya hanya dipandang seperti hewan, tanpa memiliki nilai-nilai rasionalitas di dalamnya.

Ekonomi yang sekarang ada cenderung mengarah pada kecenderungan itu. Bahwa manusia ketika lapar, maka akan mencari makanan. Apakah manusia itu memiliki pemikiran untuk berbagi, itu tidak dibahas dalam ekonomi yang berkembang sekarang. Jadi, ketika berbicara tentang ekonomi yang diaplikaskan oleh masyarakat Muslim, terdapat nilai-nilai transenden dan sakral di dalamnya. Dan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan masyarakat. Dua sisi inilah yang saya sebut sebagai realis. Bukan hanya bersifat ideal saja.

 

Bagaimana pendapat Anda tentang sistem Ekonomi Islam yang berkembang dewasa ini?

Menurut saya, sistem Ekonomi Islam yang berkembang dewasa ini belum menemukan garis finis, atau masih sangat perlu untuk disempurnakan lagi. Kita perlu untuk merumuskan ulang. Selain itu kita juga perlu mengkaji basis ekonomi tentang hukum kelangkaan. Apakah pijakan ekonomi itu hanya itu saja atau ada yang lainnya atau tidak.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *