Mengusung Sains Sakral sebagai Paradigma Ilmu

Mengusung Sains Sakral sebagai Paradigma Ilmu

aan Rukmana Kita tidak bisa memungkiri bahwa ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Ilmu pengetahuan yang dimaksud tidak hanya berbicara tentang persoalan sains dan tekhnologi, tetapi juga berbicara tentang ilmu-ilmu humaniora, dan lain sebagainya. Namun, pertumbuhan ilmu pengetahuan tersebut, nampaknya tidak berjalan secara stabil. Ilmu pengetahuan yang pada mulanya bersumber dari satu hal itu, kini terpisah-pisah, seolah tiap-tiap ilmu pengetahuan tersebut tidak memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam konteks inilah, sains sakral muncul sebagai solusi atau perekat yang dapat menyatukan berbagai ilmu pengetahuan yang mulai terkotak-kotakkan. Sains sakral di sini hadir sebagai sebuah paradigma yang menjadi dasar semua ilmu. Dasar ini tidak hanya ditargetkan mampu menjadi perekat semua ilmu, tetapi juga mampu menjadi basis yang dapat memagari perkembangan ilmu-ilmu tersebut agar tidak keluar dari koridornya dan dapat menyebabkan kehancuran hidup umat manusia. Dalam konteks ini, tim redaksi SAINS mewawancarai Aan Rukmana, M.A , narasumber pre-seminar IC-Thusi yang berbicara tentang persoalan sains sakral ini. Berikut adalah kutipan hasil wawancara kami bersama Aan Rukmana seusai seminar yang berlangsung di Auditorium STFI Sadra tersebut.      Bagaimana pendapat Anda tentang Sains Sakral sebagai paradigma ilmu pengetahuan? Sains sakral sebetulnya belum menjadi paradigma, melainkan sebuah tawaran alternatif dari Sayyed Hosein Nasr, seorang filsuf muslim kontemporer yang perenialis dan satu mazhab dengan Martin Lings. Mereka inilah orang-orang yang berusaha memformulasikan ilmu yang ada di sufisme untuk menjadi paradigma pengetahuan. Inilah inti sains sakra, yakni pengetahuan yang berbicara tentang ‘the holy’ atau ‘yang suci. Jadi ini adalah ilmu dasar dari semua ilmu. Apa urgensi dimunculkannya Sains Sakral sebagai paradigma ilmu pengetahuan?   Sejauh yang saya tau, adanya ilmu sakral adalah untuk mengembalikan seluruh disparitas (pemisahan) yang terjadi di antara ilmu pengetahuan. Jadi, karena telah terjadi disintegrasi yang begitu luas, maka caranya adalah bagaimana mengembalikan itu semua menjadi satu kesatuan yang utuh. Banyak orang memiliki teori yang terpeta-petakan, tetapi kalau orang perenialis seperti Nasr misalnya, menggunakan ilmu sakra untuk mengatasi hal tersebut. Bagaimana ilmu sakral yang digagas oleh Nasr dan kawan-kawan itu berkembang hingga saat ini?   Saya belum mengikuti betul, bagaimana riset terakhir tentang perkembangan Sains Sakral ini. Tapi dari literatur-literatur yang saya baca tentang Nasr, memang apresiasi atas catatan Nasr itu baru berhenti pada tugas-tugas penelitian ilmiah kampus. Jadi, belum menjadi satu proyek besar untuk mengatasi krisis ilmu pengetahuan, khususnya lagi untk mengatasi krisis ilmu-ilmu kemanusiaan. Bahkan secret knowledge (sains sakra) yang digagas oleh Nasr pun masih berhenti pada ilmu-ilmu alam (natural sciences), jadi belum masuk kepada ilmu-ilmu kemanusiaan (human sciences). Apa pekerjaan rumah penting yang harus diselesaikan oleh para ilmuwan, pemikir, dan cendikiawan muslim terkait dengan gagasan sains sakral ini?   Hal yang harus dilakukan adalah bagaimana mengembangkan Sains Sakral ini, supaya bisa digunakan juga untuk melihat ilmu-ilmu kemanusiaan, tidak hanya berkutat pada ilmu-ilmu alam saja. Tugas kita semua, para pengkaji filsafat untuk melihat pemikiran-pemikiran yang orisinal dari pemikir muslim, seperti Nasr, ini untuk dikontekstualisasikan dengan tantangan kekinian. Karena semakin hari, tantangan tersebut semakin besar, tetapi kita lebih sering lupa bahwa di dalam tradisi Islam juga sebetulnya ada batu bata-batu bata pengetahuan dan itu bisa kita pakai untuk membangun peradaban Islam Peawancara  : Husnul Amilin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *