Seminar: Tradisi Pendidikan Keagaamaan di Negeri Mullah

Seminar: Tradisi Pendidikan Keagaamaan di Negeri Mullah

1Liputan SAINS:  Direktur Riset Hauzah Ilmiah Mashhad Iran, Prof. Hojjatul Islam Muhamad Javad Nezafat Yazdi, dan Perwakilan Al Mustafa International University Jakarta Prof. Sayid Mufid Husaini Kouhsari  Menyampaikan presentasinya terkait dengan Potret Pendidikan Keagamaan di Iran ,Pada seminar PPIM yang ke-27 di ruang Seminar PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Sadra International Institute, Kamis, 18 Agustus 2016. Acara yang dipandu oleh Dadi Darmadi, Ph.d ini mendapatkan antusias yang luar biasa dari para peserta yang rata-rata merupakan peneliti di lembaga yang dikenal sebagai think tank UIN Syarif Hidayatullah ini. Sebelum acara dimulai, Direktur PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Saeful Umam, Ph.d mengucapkan rasa terima kasih atas kedatangan delegasi dari Iran tersebut seraya memberikan penjelasan tentang latar belakang serta tujuan berdirinya PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam paparannya Prof. Hojjatul Islam Muhamad Javad Nezafat Yazdi, mengatakan bahwa:   Lembaga Hauzah Ilmiah merupakan lembaga pendidikan tradisional yang berusia ratusan tahun dan mampu bertahan hingga sekarang memiliki tipologi berbeda dengan Universitas. Di lingkungan Hauzah senantiasa dikembangkan konsep kemandirian dan bersikap kritis . “Umat Islam tidak boleh terlena dalam kungkungan modernitas Barat dan tanpa nalar kritis mengkritik kebijakan dunia Barat. Kita sebagai umat Islam juga bisa berdiri sendiri mengembangkan sistem pendidikan yang bermutu serta mengandalkan nalar dengan menyandarkannya kepada Allah,” ungkap Nezafat Yazdi.  Lembaga ini memfokuskan pada penggemblengan ruh dan jiwa. Selain itu juga talabeh (sebutan pelajar hawzah) dididik dengan fokus pada moralitas dan akhlak. Menariknya,talabeh di sana wajib belajar filsafat, mengetahui logika suatu hal agar dapat berargumentasi dengan baik. “Kebiasaan membaca lalu mendiskusikannya adalah hal lumrah terjadi di lembaga kami,” ujarnya. Sebagai pembicara kedua, Prof. Sayid Mufid Husaini Kouhsari menuturkan bahwa dalam dua dasawarsa terakhir, grafik Pendidikan Islam di Iran mengalami perkembangan cukup pesat. Produktifitas sarjana Iran cukup baik, baik dalam bidang sains ataupun ilmu-ilmu sosial, seperti yang terlihat di jurnal-jurnal internasional. Selain itu, pemerintah Iran pasca revolusi sangat mendukung temuan-temuan di berbagai bidang, dan membentuk dewan pakar bagi setiap disiplin keilmuan. Dalam pengembangan sistem pendidikannya,  seperti yang diungkapkan Mufid Husaini, Iran memiliki semacam roadmap (peta jalan) bagi masa depan dunia pendidikan nasionalnya. Road map tersebut diikuti oleh seluruh unsur masyarakat Iran. “Kami berharap dunia Muslim tidak terbelakang dan bisa berkompetisi dengan dunia Barat,” pungkasnya. Dari beberapa pertanyaan yang muncul, diketahui bahwa, meskipun tetap mandiri dan independen dari pengaruh negara, lembaga pendidikan tradisional seperti Hauzah bisa bertahan karena dukungan moral dan finansial dari masyarakat, khususnya para dermawan, bantuan zakat dan lain-lain. Lembaga pendidikan ini, meskipun tempat pendidikan para da’i tidak diperkenankan adanya pemaksaan agama atau mazhab tertentu, “Orang non-Syi’ah juga diperbolehkan belajar di Hauzah Ilmiyah, tanpa perlu takut akan menjadi Syi’ah” jelas Javad Nezafat Yazdi. Meskipun dipresentasikan dalam bahasa Farsi, diskusi berjalan cukup dinamis. Hadirin menyimak pesan-pesan narasumber yang diterjemahkan oleh Akmal Kamil, MA Direktur Sadra Internastional Institute. [PPIM]    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *