Jauh Sebelum APD, Para Dokter Muslim Abad Pertengahan Menangkal Wabah Menggunakan APD Versinya Sendiri

Jauh Sebelum APD, Para Dokter Muslim Abad Pertengahan Menangkal Wabah Menggunakan APD Versinya Sendiri

Alat pelindung diri (APD), telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Tentu kita menyaksikan petugas kesehatan di garda terdepan mengenakan hazmat, face shield, masker dan sarung tangan untuk melindungi diri dari Covid-19. Masyarakat pun diwajibkan untuk mengenakan masker untuk menangkal virus.

Seorang profesor dari University of Michigan, Christine Gruber, mengungkap penggunaan APD di zaman Islam Abad Pertengahan. Pada Abad Pertengahan, wabah sering dikonseptualisasikan sebagai kerusakan udara, di mana energi-energi negatif memasuki tubuh manusia. Pada masa lampau, orang mengira bahwa wabah itu disebabkan oleh malaikat hitam yang menembakkan panah tak terlihat. Istilah wabah dalam bahasa Arab adalah ‘ta’un’, yang berasal dari kata kerja ‘ta’ana’ yang berarti ‘menembus, menikam, menusuk, dan menyerang.’ Barangkali wabah dapat diartikan sebagai serangan kepada raga dan jiwa manusia.

Alat pelindung diri (APD) juga digunakan pada masa Islam Abad Pertengahan. APD berfungsi untuk melindungi diri dari wabah. Berbeda dengan masa sekarang, APD Islam pramodern klasik adalah kemeja azimat, yakni pakaian yang bertuliskan teks suci. Bahkan pakaian ini menyerupai pakaian perang. Pada desainnya terdapat lingkaran atau bundaran di bagian dada dan bahu, serta pinggiran kerah. Dihiasi bentuk kotak-kotak, angka, dan motif-motif, pakaian (APD) tersebut mengandung azimat, dan dianggap mampu melindungi pemakainya sccara fisik dari penyakit dan kematian. Bahkan salah satu jenis APD di Asia Selatan pada abad 15 dan 16 M menampilkan seluruh teks Al-Qur’an serta semua nama Tuhan.

   

Talismanic shirt made in India in the 15th or 16th century. Metropolitan Museum of Art

 

APD Islam Abad Pertengahan umum lainnya termasuk gulungan jimat berukuran kecil, yakni gulungan kecil ayat-ayat Al-Qur’an di atas kertas cetak blok desain jimat seperti segel segi enam Sulaiman. Gulungan jimat qur’ani ini dikenakan di leher atau diikatkan di tubuh, dan dianggap dapat membuka berkah, yang dikenal sebagai ‘baraka’.

   

Eleventh-century talismanic scroll from Egypt (left) and pendant with the ‘Garden of Names’ anti-plague amulet for sale online today (right). Metropolitan Museum of Art/Screengrab, www.dilekbora.com 

 

Sebagian seni proteksi dan penyembuhan Islam tradisional telah memberikan jalan kepada pengobatan dan teknologi modern. Tetapi benda-benda azimat dan praktik homeopati masih ada di dunia Islam, seperti yang terjadi di banyak budaya agama di seluruh dunia.

 

Seperti doa atau meditasi, yang dapat memiliki efek plasebo, membawa manfaat nyata bagi pikiran dan tubuh. Sebagai objek seni, artefak ini juga berbicara dengan keinginan manusia untuk mencari kenyamanan dan penyembuhan dalam kreativitas dan desain. Itu juga merupakan ciri pandemi hari ini.

 

Dilaporkan dari penelitian Christine Gruber, Professor of Islamic Art, University of Michigan, dengan judul Long Before Face Masks, Islamic Healers Tried to Ward Off Disease with Their Version of PPE, www.theconversation.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *