SII MENGGELAR WEB-CONFERENCE MENGENANG DARMA INTELEKTUAL AYATULLAH M. TAQI MISHBAH YAZDI (Day 1)

SII MENGGELAR WEB-CONFERENCE MENGENANG DARMA INTELEKTUAL AYATULLAH M. TAQI MISHBAH YAZDI (Day 1)

 

Setelah sukses menggelar webinar yang bertemakan Filsafat Moral tempo lalu, Sadra International Institute bersama STFI Sadra menggelar webinar dalam rangka mengenang Ayatullah M. Taqi Mishbah Yazdi dengan tema Filosof Muslim Abad Ini: Beragam Dimensi Pemikiran & Darma Intelektual Ayatullah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Web-conference ini diadakan selama dua hari, yaitu pada hari rabu dan kamis tanggal 27-28 Januari 2021, yang menghadirkan lima narasumber yang merepresentasikan ragam pemikiran Ayatullah Mishbah Yazdi. Acara ini dipandu oleh Ir. Ahmad Jubaeli sebagai moderator.

Acara dibuka pada hari pertama dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh Ust. Usep. Moderator kemudian memperkenalkan para narasumber yang pada hari pertama menghadirkan Dr. Kholid al-Walid, selaku Ketua STFI Sadra, yang memaparkan pemikiran Ayatullah Mishbah Yazdi dalam perspektif Filsafat. Dr. Kholid mengatakan bahwa terdapat sejumlah keunikan yang dimiliki oleh Ayatullah.

“Sistematika pembahasannya tidak lazim. Umumnya, para filsuf Hikmah Muta’aliyyah mengawali dengan pembahasan wujud (ontologi). Ayatullah Mishbah Yazdi mengawalinya dari pembahasan epistemologi. Ini sesuatu yang baru dan sekaligus berat. Kenapa? Karena ini memberikan kesan pada kita bahwa bagi Ayatullah, Anda tidak akan bisa memahami filsafat dengan baik tanpa penguasaan epistemologi. Ini merupakan fondasi dasar dalam membimbing seseorang untuk kemudian memahami penguasaan terhadap filsafat.”

Pemikiran ini dapat kita temukan dalam karya-karyanya, terutama karyanya yang terkenal yaitu Manhaj al-Jadid fi Ta’limi Falsafah, yakni kitab daras yang menjadi rujukan para mahasiswa yang mempelajari filsafat Islam. Karya ini juga sedang digarap oleh Tim Sadra Press untuk segera diterbitkan kemudian dengan judul “Kitab Filsafat”.

Keunikan lainnya yang disampaikan Dr. Kholid adalah bahwa Ayatullah menjelaskan terma-terma filsafat melalui pendekatan rasional, yakni melalui argumentasi demonstrasi akal (al-burhan al-‘aqli). Metode ini kita temukan pada aliran Peripatetik Islam seperti Ibn Sina, misalnya, dalam kitab Al-Isyarat wa al-Tanbihat. Selain itu, Ayatullah juga melakukan pendekatan analitik bahasa terhadap terma-terma tersebut secara cermat, yang tidak kita temukan pada filsuf lain. Ayatullah mampu meramu aliran Hikmah Muta’aliyyah dengan gaya Peripatetik Islam, dan ini sangat luar biasa.

Webinar kemudian dilanjutkan dengan narasumber kedua, yaitu Ust. Abdullah Beik, MA, yang memaparkan pemikiran Ayatullah dalam konteks Tafsir al-Qur’an. Ayatullah Mishbah Yazdi sendiri merupakan murid dari Allamah Thabathaba’i, yang mewarisi legasi Mulla Sadra dan sekaligus pengarang Tafsir al-Mizan. Ayatullah dalam bidang tafsit memilih tafsir tematis, yakni menafsirkan al-Qur’an dengan memilih tema-tema tertentu. Hal menarik dari Ayatullah adalah bahwa beliau tidak mengulang pembahasan yang sama, yang ditafsirkan oleh ahli tafsir lainnya, termasuk gurunya sendiri Allamah Thabathaba’i. Meskipun hampir dari semua tafsir tematisnya merujuk pada Tafsir al-Mizan, namun Ayatullah tetap menciptakan terobosan baru dengan daya nalarnya sendiri.

“Beliau juga menggunakan pendekatan epistemologis dan ontologis. Dalam mukadimah pada tafsit tematisnya, beliau terlebih dulu mendiskusikan tema-tema apa yang dibahas dan mulainya dari mana. Beliau tidak membahasnya dari manusia lebih dulu, meskipun manusia adalah objek daripada al-Qur’an dan subjek itu sendiri sebagai pelaku. Ini akan jatuh pada humanisme. Secara epistemologis Ayatullah membahasnya dari Allah terlebih dulu, kemudian alam, dan baru manusia. Setelah itu Ayatullah membahas jalan manusia untuk menuju Allah, dan pada bab berikutnya beliau membahas pemandu jalan termasuk para nabi, rasul, dan imam, serta pembahasan untuk mengenal al-Qur’an sendiri sebagai pemandu manusia. Kemudian beliau membahas akhlak, masyarakat dan sejarah, dan kemudian beliau membahas sistem politik dalam Islam.”

Ust. Beik menjelaskan bahwa ada satu hal yang menarik dari Ayatullah Mishbah Yazdi, bahwa Ayatullah menyimpulkan sebuah sistem dalam al-Qur’an, yang belum dilakukan oleh para mufasir lainnya. Ini merupakan langkah yang lebih maju dan merupakan sebuah pembaharuan. Hal ini juga dilakukan oleh Ayatullah Baqir Shadr yang menemukan sistem ekonomi Islam dalam al-Qur’an yang ditulisnya dalam Iqtishaduna (Ekonomi Kita). Membahas pemikiran Ayatullah Mishbah akan sangat panjang dibahas dalam sebuah seminar, karena beliau sendiri telah menulis 9 jilid buku tentang tafsir Qur’an, dan 115 buku dalam bidang keilmuan lainnya.

Moderator Ir. Ahmad Jubaeli kemudian melanjutkan rangkaian acara kepada narasumber terakhir pada hari pertama webinar, yakni Dr. Ammar Fauzi. Dr. Ammar sendiri memaparkan materi dalam konteks akhlak atau etika. Beliau memaparkan kembali pemikiran Ayatullah dalam konteks etika, seperti yang pernah dikemukakannya pada webinar filsafat moral sebelumnya. Beliau sendiri merupakan penerjemah karya Ayatullah yang berjudul Falsafah al-Akhlak (Filsafat Moral) yang diterbitkan Sadra Press. Karya ini juga merupakan karya kedua bertemakan filsafat etika di Iran setelah karya Syahid Murtadha Muthahari pasca revolusi Islam Iran (1980-an). Dr. Ammar juga membandingkannya dengan karya Prof. Amin Abdullah, yang merupakan karya paling serius tentang filsafat etika Islam berbahasa Indonesia yang merupakan disertasinya di Turki (1992).

Beliau memulai seminar dengan tiga pertanyaan, yakni “apa yang dapat aku ketahui?” “apa yang dapat aku lakukan?” dan “apa yang dapat aku harapkan?” Dengan pertanyaan ini Dr. Ammar mengajak para peserta untuk merenungkan tujuan hidup, sebab suatu tindakan akan bernilai baik dan buruk jika dibandingkan dengan tujuan hidup. Berbeda dengan etika deontologi, suatu tindakan akan bernilai pada dirinya sendiri, terlepas dari tujuan tindakan dilakukan. Dua pandangan utama ini menjadi perdebatan pelik dan permasalahan utama dalam karya Prof. Amin Abdullah, bahkan dalam sejarah perkembangan filsafat etika. Lalu bagaimana kita mendapatkan sistem etika yang dapat mengakomodasi dua pandangan ini?

Dr. Ammar menjelaskan bahwa Ayatullah Mishbah Yazdi menganut etika teleologis, tetapi juga melibatkan aspek ontologisnya. Ayatullah Mishbah Yazdi meyakini bahwa manusia bertindak secara moral berdasarkan egonya, yaitu kehendak untuk mencapai tujuan dirinya. Tetapi egoisme yang mulia dan tertinggi baginya ialah perjumpaan dengan Tuhan. Sehingga segala tindakan akan bernilai jika ditujukan untuk berjumpa dengan Tuhan kelak di hari kemudian. Bahwa, “Minumnya kita saat ini bukan semata-mata memuaskan dahaga pada tubuh, melainkan untuk memuaskan dahaga kita di akhirat kelak.” Ulasan dari pemaparan Dr. Ammar menyimpulkan bahwa etika Ayatullah mampu mengakomodasi kedua pandangan sebelumnya.

Moderator mencukupkan webinar di hari pertama pada narasumber ketiga, dan tidak ada sesi tanya jawab. Peserta diminta untuk menyimpan pertanyaannya untuk disampaikan pada sesi selanjutnya, yakni ragam pemikiran Ayatullah dalam  bidang politik dan irfan. Tentu, ragam pemikiran yang diulas dalam webinar kali ini hanyalah sebagian dari pemikiran Ayatullah Mishbah Yazdi, karena untuk membedah kedalaman dan keluasan pemikirannya kita membutuhkan waktu yang sangat panjang. Acara ditutup dan akan dilanjutkan pada esok harinya.

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *