SII MENGGELAR WEB-CONFERENCE MENGENANG DARMA INTELEKTUAL AYATULLAH M. TAQI MISHBAH YAZDI (Day 2)

Webinar SII bersama STFI Sadra dalam rangka mengenang darma intelektual Ayatullah M. Taqi Mishbah Yazdi dilanjutkan pada 28 Januari 2021. Ir. Ahmad Jubaeli selaku moderator membuka acara dan mempersilahkan narasumber dalam perspektif politik, yakni Dr. M. Syamsul Arif, untuk memaparkan materinya. Dr. Syamsul sendiri merupakan lulusan S3 Al-Mushtafa University Iran jurusan politik Islam, yang juga mendalami pemikiran politik Ayatullah Mishbah Yazdi. Ayatullah sendiri merupakan seorang pejuang yang ikut serta menggerakkan revolusi Republik Islam Iran.

 

Pada awal pemaparannya, Dr. Syamsul memperkenalkan beberapa judul karya Ayatullah tentang politik. Beliau sendiri merupakan murid dari Imam Khomeini dalam bidang politik. Kemudian beliau melanjutkan sistematika pemikiran politik Ayatullah yang dimulai dari antropologi, agama dan politik, bentuk negara, serta legalitas dan akseptabilitas. Pemikiran yang baru dari Ayatullah sendiri adalah tentang demokrasi islami. Di mana sistem pemerintahan menggabungkan antara demokrasi, di mana rakyatlah yang memegang kekuasaan, dan juga sistem pemerintahan wilayah al-faqih, di mana agama ilahi memainkan peran pada level tertinggi dalam urusan politik. Sistem pemerintahan ini bukanlah demokrasi sekuler maupun khilafah yang utopis. Sistem pemerintahan seperti ini, meskipun diperdebatkan secara ilmiah, tetapi terbukti efektif mengawal rakyat Iran dalam menghalau dari invasi dan embargo ekonomi-politik pihak yang zalim. Ini membuktikan integritas Iran sebagai sebuah bangsa.

Kemudian Ir. Ahmad Jubaeli melanjutkan seminar pada narasumber terakhir, yakni Dr. Abdelaziz Abbacy, yang merupakan Direktur Sadra International Institute. Dr. Abbacy memaparkan pemikiran Ayatullah dalam konteks Irfan. Corak filsafat Hikmah Muta’aliyyah sendiri adalah irfani. Dr. Abbacy mengatakan bahwa selain irfan teoritis, Ayatullah juga mempromosikan irfan praktis yang menjadi ciri khasnya. Irfan adalah mengenal Allah Swt., sifat-Nya, dan juga perbuatann-Nya. Namun bukan semata-mata mengetahui dan menghafal dengan kata, konsep, dan pemikiran, melainkan mengenal-Nya dengan Qalbu (Hati).

Ayatullah mendasari irfan dengan ilmu kehadiran (ilmu hudhuri). Bahkan membahas irfan melalui ilmu representasi (ilmu hushuli) dapat membuat seseorang terhijab. Jadi Ayatullah menekankan kepada perbuatan, tetapi bukan untuk mencapai maqom tertentu. Sebab maqom masih termasuk ke dalam teori.

Salah satu pandangan yang khas dari Ayatullah adalah tentang pengalaman spiritual. Dr. Abbacy mengatakan,

Seluruh yang mengklaim pengalaman spiritual dan menyampaikannya, bukan merupakan hujah (bukti) bagi kita. Itu hanya hujah bagi diri mereka. Kita hanya memiliki satu hujah, yaitu anjuran dan penjelasan tentang pengalaman yang disampaikan oleh Rasulullah, sahabat, dan para maksumin. Ini pandangan beliau yang tegas dan berbeda dengan ulama yang lain. Karena menurut beliau pengalaman spiritual yang lain itu bisa jadi khayal, wahm, atau juga bersumber dari sumber yang lain seperti syaiton, dan bisa jadi juga salah menafsirkan pengalaman.

 
 

Irfan sendiri berasal dari Islam, bukan dari mistisisme Hindu, Buddha dan lain sebagainya. Ini pandangan yang tegas dari Ayatullah. Rasulullah dan keluarganya sendiri telah mengajarkan irfan. Mengenal Allah dan Tauhid tidak akan bisa dilakukan tanpa syariat. Jadi tidak dapat dipisahkan antara syariat, tarekat dan hakikat. Jika ketiganya tidak beriringan maka akan terjadi penyimpangan dalam irfan. Dr. Abbacy mengingatkan bahwa ketika seseorang bersuluk, suluk tersebut harus didasari pada keinginan dan kehendak Allah yang tercantum dalam kitab-Nya dan disampaikan oleh nabi-Nya. Bukan didasarkan pada keinginan ego diri sendiri, karena banyak orang yang melakukan suluk demi memuaskan egonya sendiri, dan ini akan mengarah pada penyimpangan. Jadi irfan dalam pandangan Ayatullah Mishbah Yazdi sejalan dengan ajaran Islam itu sendiri, bahkan merupakan bagian dari Islam.

Moderator melanjutkan webinar dengan sesi tanya jawab. Banyak dari peserta yang bertanya secara langsung maupun menuliskan pertanyaannya pada kolom chat. Pertanyaan tersebut diajukan kepada narasumber di hari kedua maupun hari pertama. Nampak antusiasme peserta dalam mencerna khazanah intelektual Ayatullah Mishbah Yazdi yang ragam perspektifnya diuraikan oleh para narasumber. Terimakasih kepada para narasumber, moderator, dan peserta webinar. Sampai jumpa dalam webinar kami selanjutnya. Wassalam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *