Mizbah Yazdi: Menerangi Jiwa dengan Cahaya Filsafat Islam

         

Robby H. Abror

Secara utuh, kitab Amūzesy-e Falsafeh yang dikarang oleh Ayatullah MT Mishbah Yazdi ini berisi 70 daras/pelajaran/bab. Sedangkan jilid pertamanya yang diterbitkan Sadra Press dengan judul Kitab Filsafat: Pendekatan Komparatif Filsafat Islam memuat 30 daras/pelajaran.

Buku ini ditulis untuk mengenalkan pemikiran filsafat Islam dan dikhususkan bagi para santri (dalam istilah kita) atau para calon mujtahid, hujjatul Islam bahkan pemimpin/pemikir Islam di hauzah (semacam pusat studi Islam/pesantren ilmiah di kota Qum, Iran).

Karya ini merupakan hasil kuliah Ayatullah Mishbah Yazdi yang direkam selama tahun 1981-1982. Hasil transkripsinya ini langsung di bawah pengawasan sang penulis yang kemudian diterbitkan dalam dua jilid.

Ayatullah Mizhbah Yazdi ini merupakan ulama dan intelektual yang sangat dihormati di dunia Syiah, dan juga professor filsafat yang disegani. Beliau adalah produk dari sistem pendidikan tradisional hauzah ilmiah di Qum, Iran. Guru-gurunya antara lain: Allamah Thabathaba’i, Ayatullah Behjat Fumani dan Ayatullah Ruhullah Khomeini.

Kitab filsafat ini menyiratkan dua hal dari seluruh pemikiran yang diajukan oleh Ayatullah Mizhbah yazdi, yaitu: munculnya polemik dan juga spirit instruksional. Ia berpegang teguh pada pandangan bahwa filsafat Islam menjadi dasar bagi pemikiran keagamaan dan sekaligus menyerang pandangan-pandangan filsafat Barat yang tidak selaras dengan pandangan Dunia Islam. Ia juga menghadapi pemikir liberal seperti Abdelkareem Soroush yang kerap menggugat pandangan klasik hauzah.

Apa yang menarik dari buku ini?

Jilid 1 ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama tentang kajian pengantar yang diuraikan sangat mengalir dan asyik dibaca. Bagian kedua tentang epistemologi, terutama konsistensi penekanannya pada pentingnya peran akal dan indra. Bagian ketiga buku ini membahas tentang salah satu cabang utama filsafat yang paling sulit, yaitu ontologi, filsafat wujud atau pembahasan tentang kesejatian Ada. Kelebihan lain dari buku ini ialah selain menyuguhkan uraian yang begitu enak dinikmati, namun juga terdapat ringkasan dan bahan latihan atau diskusi berupa soal-soal yang jernih terkait tema yang dibahas di setiap daras atau babnya, sehingga memudahkan pembaca/pelajar mengingat kembali materi yang sebelumnya dipaparkan.

Hal menarik lainnya yang dapat dipaparkan di sini:

Pertama, tidak saja menguraikan tentang sejarah filsafat dari awal hingga era Islam, lalu abad pertengahan hingga abad ke-20, aliran-aliran filsafat seperti positivisme, eksistensialisme dan juga marxisme, tetapi juga istilah-istilah teknis dalam filsafat seperti ekuivokasi, klasifikasi ilmu dan juga berbagai persoalan filosofis yang coba ia jelaskan dengan pikiran yang tenang dan terang benderang.

Kedua, memaparkan metode penelitian filsafat terutama kelebihan metode rasional dan kekurangan dari metode empiris. “Alat-alat pertukangan” penting yang wajib dibawa dan dipahami oleh para mahasiswa filsafat untuk memahami realitas ideologi yang benar dan paradigma yang terarah. Ayatullah Mishbah Yazdi selalu mengingatkan agar masalah-masalah filsafat harus ditelaah dengan metode rasional.

Ketiga, pembahasan yang menarik lainnya ialah konsep tentang Ada dalam makna nominatif mandiri dan prepositif yang relatif.

Karakteristik

Jika dibandingkan dengan pemikir sezamannya, Mishbah Yazdi lebih kritis dibanding Murtadha muthahhari yang lebih moderat, dan lebih keras dibandingkan Jawadi Amuli yang lebih ramah dalam merespon kalangan liberal. Prinsip dan strategi Ayatullah Mishbah Yazdi ialah bertahan dan menyerang. Ya, filsafat itu mirip pola permainan dalam sepak bola. Kadangkala sepakbola menjadi filosofi bagi hidup seseorang dalam menyusun strategi kehidupannya.

Iran punya sejarah panjang, apalagi jika sudah menyebut dengan nama lain yaitu Persia. Dulu para ulama Syiah khususnya para ahli fikih dan ushul fikih juga pernah menentang filsafat, irfan (tasawuf) dan juga tafsir al-Qur’an dalam sejarahnya. Tidak sedikit marja’ (taqlid) saat itu yang juga ikut menyerang atau sinis terhadap pengajaran filsafat.

Tetapi ketegangan itu kemudian perlahan dapat dikikis sejak Ayatullah Imam Khomeini dan juga Allamah Thabathaba’i yang justru menjadi barisan pertama dan terdepan dalam mengajarkan kajian-kajian yang ditentang tersebut.

Fenomena mencolok ini, yakni gairah belajar filsafat, irfan dan tafsir, terjadi setelah berhasil menumbangkan penguasa despotik Syah Reza Pahlevi dalam kemenangan Revolusi Islam di Iran.

Jadi di Iran khususnya, mengkaji filsafat tidak dapat dilepaskan dari doktrin Islam. Dalam Islam umumnya, filsafat harus patuh pada pagar-pagar doktrin Islam. Penulis jadi teringat satu karya penting alm. Cak Nur (Prof. Nurcholish Madjid) yang berjudul Islam Doktrin dan Peradaban. Buku setebal 600-an hlm itu, tidak hanya bicara soal iman, tapi juga falsafah Islam dan beberapa disiplin ilmu keislaman tradisional lainnya seperti kalam, fikih, tasawuf, dan lain-lain. Menurut Cak Nur, sumber dan pangkal tolak falsafah dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan Sunah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *