KILAS PANDANG BEDAH BUKU KITAB FILSAFAT

Oleh Muhammad Mahdi

Ayatullah Taqi Misbah Yazdi merupakan seorang cendekiawan, teolog, dan agamawan, bak matahari di Dunia Timur. Khususnya pada tradisi filsafat Islam, bersamaan dengan beberapa koleganya seperti Ayatullah Jawadi Amuli, beliau memegang panji penerus tradisi filsafat daripada Sang Mahaguru Allamah Thabathaba’i.

Allamah Thabathaba’i adalah sosok yang membangkitkan kesadaran akan filsafat di Dunia Islam, setelah melewati masa pengharaman dan pengasingan, bahkan di kalangan tradisi fuqaha Syiah itu sendiri—yang sekarang justru melestarikan tradisi filsafat—jauh sebelum revolusi, sebelum goresan-goresan pena Allamah Thabathaba’i dan Imam Khomeini, sebelum dilontarkannya khotbah-khotbah yang sarat akan filsafat oleh muridnya Allamah Thabathaba’i—Syahid Murtadha Muthahhari—filsafat di dunia Islam seakan-akan meredup. Aliran Hikmah Muta’aliyah yang diwariskan oleh Mulla Sadra dipelajari sebagian kecil sebagai warisan filsafat Islam di tanah Persia, namun ditentang pula oleh banyak tokoh. Hingga kemudian, tokoh-tokoh Neo-Sadrian meniupkan kembali roh ke dalam dunia filsafat Islam.

Syaikh Taqi Misbah Yazdi, sebagai seorang cendekia brilian pewaris ilmu filsafat di kalangan hauzawiyun di Iran, menghidupkan berabad-abad kisah dan perjalanan tradisi filsafat itu dalam satu kitab karyanya. Kitab Filsafat atau dalam bahasa aslinya Amuzesy-e Falsafeh, kemudian dihadirkan dan menjadi secercah harapan bagi kalangan penggiat filsafat yang mencintai tradisi keilmuan filsafat, baik filsafat murni sebagaimana adanya maupun filsafat Islam.

Filsafat seringkali disalahfahami, melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang dinilai kolot dan tak memuntahkan jawaban aktual bagi kehidupan manusia. Ilmu-ilmu yang merupakan anak yang terlahir dari rahim filsafat, kemudian memalingkan wajah satu-persatu meninggalkan filsafat, berselingkuh dengan metodologi empiris dan aliran postivis. Sehingga kemudian ikut menarik filsafat keluar dari trek jalannya, menjadikannya tersesat dalam positivisme dan empirisisme. Dan lupa akan makna yang bahkan selalu dibawanya dalam namanya, Philo (cinta) dan Sophia (Kebijaksanaan). Kearifan yang pada dasarnya adalah cinta pertama para filosof, kemudian ditinggalkan, dan bahkan naasnya, dimusuhi.

Dalam rangka mengembalikan arti dan makna utama filsafat, berbagai upaya mesti dilakukan. Tantangan demi tantangan bermunculan menghadang diskursus filsafat, dan tugas filsafat di masa modern ini adalah mengembalikan kepercayaan kalangan cendekia kepada filsafat. Dan juga menjadi tugas abadi daripadanya untuk menjadikan disiplin ilmu filsafat ini bermanifestasi dalam bentuk aktual dalam penyelesaian berbagai problematika dalam hidup manusia, sebagaimana dasar dan tujuan utama ilmu filsafat itu sendiri.

Review Diskusi Bedah Buku Kitab Filsafat

Sadra International Institute lagi-lagi menyuguhkan suatu diskusi yang luar biasa. Sangat menarik, bahwa dari tiga narasumber yang kompeten, dimana representasi tiga institusi pelestari filsafat di dunia akademik Indonesia dipertemukan; STF Driyakarya, STAI Sadra, dan UIN.

Diskusi yang ditampilkan sangat menarik dimulai daripada penjelasan first-hand dari sang penyunting sekaligus penerjemah, Ammar Fauzi Ph.D. Kemudian direspons dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang membangkitkan refleksi mendalam oleh Dr. Budhy Munawar Rachman, dengan mengangkat ulasan tradisi filsafat murni dan menawarkan dialog yang lebih meluas. Adapun Dr. H. Robby Habiba Abror mendatangkan suatu wacana latar belakang filsafat Islam terutama bagi Syaikh Taqi Misbah Yazdi sebagai sang penulis beserta latar belakangnya sebagai kalangan cendekia muslim yang dibentuk oleh tradisi filsafat di Iran.

Tentunya diskusi diantara ketiganya sangat memperkaya pemahaman-pemahaman preteks—atau aspek aspek kontekstual—atas buku Kitab Filsafat, dan tentunya penting bagi siapa saja yang hendak memahami lebih dalam apa-apa yang dipaparkan oleh Kitab Filsafat ini.

Kitab Filsafat adalah kitab yang berbicara perihal filsafat Islam, dan ketika filsafat Islam dibicarakan maka ada beberapa pertanyaan yang muncul berkenaan dengan apa itu filsafat Islam, antara lain pertanyaan itu adalah; Apakah filsafat Islam adalah suatu aliran filsafat, atau suatu filsafat untuk Islam, atau sebagaimana pada masa klasik adalah filsafat Yunani yang telah dibahasakan dengan idiom-idiom islami, atau juga adalah sistem dalam Islam yang dapat didialogkan dengan filsafat Yunani. Tapi yang terpenting adalah dipertanyakan, apa itu filsafat?

 

Apa Itu Filsafat?

Filsafat ada di berbagai bagian dunia, seperti Cina, India, dan Yunani. Akan tetapi filsafat Yunani memiliki ciri khas yang begitu kental dengan rasionalitas, yang kemudian diadopsi oleh agama-agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Dalam ulasan Prof. Harun Nasution, menyatakan bahwa filsafat Islam adalah refleksi Islam dengan akal melulu dan juga dikonsultasikan dengan Al Qur’an.

Filsafat dalam Dunia Islam memiliki akar yang kuat mencengkram fondasinya dan juga berumur panjang. Ia memiliki pengaruh dari filsafat Hindu-Cina, yang kemudian menjadi akar dari filsafat Persia. Adapun filsafat Mesir Kuno dan Fenisia, yang kemudian menjadi akar daripada filsafat Yunani. Keduanya, atau bahkan keseluruhan unsur itu, berjumpa pada titik yakni filsafat Islam yang juga menjadi fondasi-fondasi kepada yang seterusnya seperti filsafat Yahudi dan asas filsafat modern Eropa. Maka apabila dikatakan bahwa filsafat Islam itu telah mati, maka itu tidak benar. Filsafat Islam terus hidup, baik di Eropa sebagai jiwa dalam filsafat modern, maupun di Iran, terutama di mana tradisi filsafat masih hidup dan menjadi latar belakang kultur dan tradisi daripada penulis asli buku Kitab Filsafat ini.

 

Pemahaman Akan Filsafat

Pemahaman akan filsafat di Indonesia, masih samar di beberapa lapisan masyarakat. Hal ini disebabkan kegagalan untuk memahami substansi atau ruang lingkup filsafat. Maka salah satu kiat yang dapat dilakukan adalah mengenalkan filsafat aplikatif pada dunia profesional, bagaimana kemudian dibumikan ke dalam kehidupan sehari-hari dan profesional. Maka diharapkan, Kitab Filsafat, yang merepresentasikan filsafat Islam, yang menjadikan filsafat sebagai disiplin Ilmu, mampu membantu mengaktualkan pemahaman aplikatif filsafat Islam.

 

Skandal Filsafat

Dalam pembahasan Filsafat, seringnya, kerja pokok filsafat itu adalah membahas sejarah perkembangan keilmuan itu sendiri. Bahkan, beberapa daripada filosof memfokuskan keahliannya dalam hal historisistas ilmu filsafat itu sendiri, dan kemudian diteruskan dengan dialektika dan argumentasi-argumentasi dalam rangka mendukung teori-teori filsafat dan aliran yang dipegang.

Buku ini menyajikan filsafat tanpa terobsesi dengan debat meski juga kemudian dapat ditemui juga argumentasi-argumentasi kuat atas beberapa aliran filsafat.

 

Filsafat: Peran dan Fungsinya

Kritik ideologi dan reservoir etika adalah daripada dua fungsi filsafat. Di mana filsafat berdiri sebagai suatu tolok ukur atau bahkan penguat fondasi dengan kritik-kritiknya terhadap ideologi yang ada. Filsafat dan kritik darinya menjadi suatu penuntun dan pagar yang mengarahkan suatu pemikiran. Di mana pada situasi anomali nilai, filsafat mampu memberikan alternatif bagi kebudayaan yang baru.

Di Indonesia, filsafat masih seringkali dipandang sebelah mata, dan masih belum dijadikan kebijakan strategis kebudayaan. Hal ini terlihat bahwa di universitas negeri, filsafat sebagai filsafat murni hanya hadir di dua kampus yakni UI dan UGM. Tentunya, hal ini perlu dibenahi dalam rangka membangun dan menghantarkan kebudayaan Indonesia pada puncaknya.

Filsafat berperan sebagai Alpha dan Omega dari ilmu. Ia menjadi dasar fondasi dan menjadi konklusi suatu ilmu, hingga pada akhirnya ilmu-ilmu tersebut melepaskan diri daripada filsafat dan berdiri sendiri. Maka pada akhirnya, filsafat pun ingin berdiri sebagai suatu keilmuan. Bahkan salah satu pembahasan dalam filsafat, yakni epistemologi, mulai merumuskan dirinya sendiri sebagai suatu keilmuan terpisah.

Banyak spekulasi-spekulasi filosofis mulai ditinggalkan, dan ilmu pengetahuan beralih kepada sesuatu yang lebih konkret, faktual, dan empiris. Maka yang tersisa bagi filsafat ialah sejumlah major, yakni metafisika, epistemologi, filsafat sains, etika, dan estetika.

Filsafat berusaha mencari makna hidup, ia menjadi instrumen untuk memeriksa kehidupan. Sebagaimana perkataan sokrates; “Hidup yang tidak di periksa, adalah hidup yang tak patut dijalani

Filsafat berlaku sebagai aplikasi nalar hingga batas yang dimungkinkannya, agar yang mengaplikasikannya bisa mendapatkan makna dan kejelasan akan arti hidupnya. Pada akhirnya, filsafat adalah kehidupan itu sendiri.

Tantangan Filsafat

Filsafat berakar pada kata Philo-sophia (cinta kearifan), ia adalah usaha paling gigih manusia dalam menguak makna hidup, Kebanyakan filsafat di Barat telah lari jauh dari makna utama ilmu filsafat ini, yang malah menjauhi kearifan. Filsafat yang pada mulanya adalah upaya yang berangkat pada cinta kearifan dan berakhir pada etika sebagai kebahagian hidup aplikatif. malah memusuhi kearifan itu dengan beralih kepada positivisme dan epirisisme. Bagi Kitab Filsafat ini, ada tiga tantangan besar, yakni;

  1. Bagaimana bereaksi terhadap klaim bahwa filsafat adalah disiplin ilmu yang berupa ‘wacana-wacana kelangitan’, sebagaimana kritik sebagian tokoh seperti Karl Marx yang mengkritik ketidakaktualan filsafat dan menawarkan substitusi filsafat dengan aksi aktual dalam tesisnya. Kitab Filsafat ini diharapkan dapat menjawab pandangan ini dan menyuguhkan jalan menuju aktualisasi wacana-wacana tersebut.
  2. Filsafat telah menjadi begitu rumit dan penjelasannya rigid sehingga melupakan tujuan utama yang ingin dibahas oleh filsafat, yakni kebijaksanaan itu sendiri.
  3. Filsafat hendaknya meneguhkan kearifan abadi yang dikenal sebagai perennial wisdom atau suatu kearifan yang perennial (abadi). Dan diharapkan kemudian dapat memecahkan persoalan sosial kemanusiaan dewasa ini.

Maka pada akhirnya, “Apakah masih terbuka peluang masa depan bagi filsafat?” Tentunya iya, karena pada dasarnya problema-problema kehidupan itu sendiri adalah problema filsafat. Dalam Kitab Filsafat ini, diutarakan Ultimate Objective Truth is within us, not without, bahwa Kebenaran objektif yang utama dan tertinggi, pada akhirnya adalah ada pada diri kita.

 

Ayatullah Syaikh Taqi Misbah Yazdi dan Kitab Filsafat

Setiap karya tidak bisa dilepaskan dari pengarangnya, dan latar belakang pengarangnya. Iran, dan Hauzah, adalah dua tempat yang mana konsentrasi akan filsafat terus diasah, dan tradisinya dijaga. Kekhasan daripada tradisi filsafat di Iran adalah kentalnya spiritualisme di baliknya, yang ikut memupuk perkembangan filsafat di Iran. Meski begitu, Syaikh Taqi Misbah Yazdi dalam karyanya yang walaupun lahir di lingkungan tradisi filsafat hauzah, juga menyempatkan untuk merespons kepada pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar ke-Islam-an. Termasuk juga diantaranya adalah menjawab dan merespons pemikir-pemikir Iran yang liberal seperti Abdul Karim Soros. Sikap Syaikh Taqi Misbah Yazdi dalam karya-karyanya, adalah sikap tegas. Tak lepas daripada komentarnya terhadap gurunya sendiri, Allamah Thabathaba’i.

Kendati disampaikan untuk dipelajari oleh guru dan murid dalam proses pembelajaran, pemaparan Syaikh T. M. Yazdi cenderung lugas. Terkadang, ia memiliki ciri khas berupa pertanyaan yang diajukan sebagai latihan agar memiliki kedalaman reflektif yang sebegitu dalam, bahkan lebih dalam daripada pembahasan itu sendiri. Tiga puluh bab di buku ini, terbagi kepada tiga bagian. Kajian pengantar, epistemologi, dan ontologi. Selain pertanyaan reflektif, di dalamnya juga terdapat ringkasan yang lengkap beserta perbandingan antar pemikiran di dalamnya.

M. Mahdi, Pegiat Filsafat Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *