SADRA INTERNATIONAL INSTITUTE GELAR PEKAN PENELITIAN SADRA 2022

Pada akhir Januari lalu, Senin 31/01/21, Sadra International Institute menyelenggarakan acara puncak Pekan Penelitian Sadra dengan tema "Kontribusi Para Filsuf Neo-Sadrian dalam Menghadapi Era Disrupsi". Dalam acara ini hadir Prof. Dr. Hossein Muttaghi (Direktur Yayasan Hikmat Al-Mustafa) sebagai keynote speaker yang diterjemahkan oleh Abdullah Beik, MA. Beliau menyampaikan bahwa tema yang diangkat kali ini sangatlah penting. Filsafat Neo-Sadrian layak untuk dikembangkan semua dimensinya di zaman ini. Direktur menjelaskan perjalanan filsafat Islam yang terbagi menjadi lima fase. Fase pertama adalah fase di mana kebangkitan penerjemahan terhadap berbagai filsafat di Yunani. Salah satu figur yang berhasil dalam fase ini ialah Al-Kindi. Dengan kata lain Al-Kindi dapat menemukan benang merah pemikiran filsafat Islam dan filsafat Yunani, dan selanjutnya disempurnakan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina. Pada fase yang ketiga, filsafat mengalami kemunduran dikarenakan kritik dan penolakan yang sangat tajam dari para teolog terhadap filsafat. Fase ketiga ini menyebabkan kemunduran filsafat. Fase yang keempat ialah fase di mana para pemikir dari Barat berusaha untuk menghidupkan kembali filsafat Islam dan menyusun berbagai prinsip pemikiran filsafat Islam seperti Henry Corbin, William Chittick, dan lain sebagainya. Pada fase ini terjadi kemajuan yang sangat pesat, di mana tidak hanya Ibn SIna yang dikenal, melainkan juga Suhrawardi dan Mulla Sadra. Pada fase yang kelima, setelah filsafat Islam bangkit kembali, kita menemukan kebangkitan pemikiran-pemikiran baru yang disebut sebagai neo-sadrian. Dan dengan bangga kita sebutkan bahwa pribadi yang menghidupkan pemikiran filsafat neo-sadrian setelah pemikiran Mulla Sadra adalah Allamah Thabathaba'i.

Pertanyaannya ialah apa yang disebut sebagai filsafat neo-sadrian? Pemikiran Mulla Sadra berhasil menggabungkan antara akal rasional, hati/perjalanan ruhani, dan wahyu dalam menyelesaikan semua problem kehidupan. Adapun pemikiran filsafat neo-sadrian adalah usaha untuk menyempurnakan berbagai prinsip-prinsip sadrian serta mengembangkannya untuk menghadapi problema pemikiran kontemporer dan yang akan datang. Dengan kata lain, filsafat sadrian dan neo-sadrian adalah dua sayap yang akan menerbangkan pemikiran Islam demi kemajuan Islam dan menjawab berbagai problema di masa yang akan datang.

Acara dilanjutkan dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Kholid Al-Walid. Ia menjelaskan bahwa kita saat ini berada pada satu era di mana perubahan besar terjadi. Perubahan pada revolusi industri 4.0 adalah berkembangpesatnya teknologi informasi/cyber. Setidaknya ada empat karakter era baru ini. Pertama, cepat perubahannya dan tidak dapat ditebak. Kedua, tidak pasti. Ketiga, perubahannya sangat kompleks mencakup beragam dimensi. Keempat, tidak jelas bagaimana keadaan dan perubahannya saat ini. Ke depan akan terjadi banyak problem sosial dan psikologis, yakni dua problem yang cepat terlihat indikasinya secara masif. Peran filsafat Islam di sini dapat meletakkan fondasi dasar permanen manusia, yakni world view. Dengan world view yang benar, maka ia tidak akan terjerumus kekacauan era ini seperti gangguan psikologis dan konflik sosial. Dengan filsafat kita dapat melihat apakah perubahan-perubahan yang terjadi itu bersifat substansial ataukah aksidental. Dengan membedakan kedua ini, hasil yang kita dapat dalam menjalani kehidupan ini juga berbeda.

Adapun orasi kedua dilanjutkan oleh Dr. Muhsin Labib yang menggantikan Dr. Abdelaziz Abbaci. Beliau menjelaskan bagaimana filsafat neo-sadrian dalam menghadapi tantangan global saat ini, terutama pemikiran-pemikiran kontemporer yang berlawanan dengan pandangan Islam. Filsafat neo-sadrian hadir dengan pendekatan-pendekatan modern sehingga dapat menjawab problem saat ini secara kontekstual. Salah satu problem zaman ini ialah di mana manusia dikendalikan oleh hasil ciptaannya sendiri. Dunia maya, media sosial, metaverse, dan segala realitas digital telah mengendalikan manusia. Filsafat neo-sadrian adalah tentang kesadaran menjadi manusia. Di kala manusia tidak mampu membangun kesadaran tentang eksistensi, maka manusia akan berada dalam metriks di mana ia tidak bisa menjadikan dirinya sebagai human being, yang sadar dan bernalar.

Acara diakhiri dengan pengumuman pemenang nominasi Pekan Penelitian Sadra yang meliputi skripsi, tesis, dan dosen terbaik Sadra 2019/2021 serta lomba resensi. Juara pertama lomba resensi diraih oleh A.M. Nizar Alfian Hasan, juara kedua Khairunnisa Marfuah dan juara ketiga diraih oleh Syarifuddin. Skripsi terbaik diraih oleh Imandega Muhammad. Tesis terbaik diraih oleh Mufti Makarimal Akhlak, dan dosen terbaik diraih oleh Azzam Bahtiar, MA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *