PIDATO DUTA BESAR IRAN UNTUK INDONESIA DALAM ACARA PERINGATAN 43 TAHUN KEMENANGAN REVOLUSI ISLAM IRAN 

Dalam webinar "Dimensi Spiritual Perjuangan Bangsa Iran dan Bangsa Indonesia dalam Meraih Kemerdekaan" pada Selasa 15/2, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Dr. Mohammad Azad, menyampaikan pidato kenegaraan dalam sambutannya. Isi dari pidatonya sebagai berikut:

Saudara-saudari Yang Saya Muliakan

Assalamualaikum, Wr, Wb. Puja dan puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT. Atas nikmat iman, Islam, serta nikmat sehat, sehingga kita bisa berkumpul bersama untuk hadir pada Peringatan Kemenangan Revolusi Islam Iran dan Berdirinya Republik Islam Iran pada hari ini. Shalawat dan salam tidak lupa kita haturkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.

Saya merasa gembira untuk sekali lagi dapat hadir di STAI Sadra dan bertemu dengan para professor dan mahasiswa terhormat Sadra. Kali ini pada peringatan HUT ke-43 “Kemenangan Revolusi Islam dan berdirinya Republik Islam Iran”, Saya ingin mempergunakan kesempatan ini untuk menjelaskan politik luar negeri pemerintahan baru Republik Islam Iran (Pemerintah ke-13) yang terdefinisi dalam konteks “Langkah Kedua Revolusi Islam Iran” yang dituliskan oleh Ayatullah Seyed Ali Khamenei, Pemimpin Agung Republik Islam Iran.

Pendekatan kebijakan luar negeri pemerintahan baru di Iran yang di pimpin oleh Presiden Dr. Seyed Ebrahim Raisi didasarkan pada tiga prinsip kebijaksanaan, kehormatan dan kemaslahatan. Berdasarkan 3 prinsip tersebut kebijakan luar negeri yang "seimbang, aktif dan cerdas" diterapkan oleh Iran. Dengan demikian, meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan negara tetangga Iran menjadi salah satu prioritas utama kebijakan luar negeri. Disamping itu benua Asia menjadi prioritas yang kedua politik luar negeri kami. Dikarenakan abad ke-21 adalah abad kebangkitan benua Asia, yang mana dengan hadirnya kekuatan-kekuatan ekonomi baru di benua ini, peluang yang baik tercipta bagi benua Asia dan dunia.

Kedua prioritas ini tidak berarti bahwa Iran akan mengabaikan bagian lain dari dunia dalam kebijakan luar negeri. Melainkan Iran akan memainkan kebijakan luar negeri yang seimbang dan  memprioritaskan negara-negara dan kawasan-kasawan tertentu. Dalam kaitan ini diplomasi ekonomi yang aktif akan dijalankan oleh Iran.

Kebijakan luar negeri yang seimbang adalah berhubungan dengan Barat dan Timur pada saat bersamaan serta menggunakan seluruh kekuatan nasional secara cerdas untuk kehadiran aktif di panggung internasional melalui beragam usulan dan inisiatif. Republik Islam Iran sebagai pemain yang rasional, selalu berupaya untuk menciptakan keamanan. Pendekatan ini bukan merupakan sebuah taktik saja melainkan adalah strategi dan cara negara kami. Iran selalu mencari dan mengharapkan “keamanan maksimum" serta "kerja sama maksimum" dalam pengembangan kawasan Teluk Persia. Kami pun merupakan pihak yang selalu menyampaikan kesiapan kami untuk memberikan bantuan untuk berbagai belahan dunia.

Umat Islam dunia menganggap Arab Saudi sebagai “Tanah Wahyu” dan kerja sama kedua negara Muslim di kawasan memenuhi kepentingan semua umat di kawasan. Dan diharapkan pembicaraan antara kedua negara dan negara-negara di kawasan akan menghasilkan hasil yang sangat baik bagi kesejahteraan dan pembangunan ekonomi kawasan demi kepentingan rakyat kawasan, tanpa campur tangan aktor asing dan dengan menolak dominasi gagasan yang “berorientasi keamanan” serta menuju ke arah “keamanan kawasan yang berkelanjutan”. Empat putaran pembicaraan antara Iran dan Arab Saudi diadakan dengan pendekatan ini.

Di bidang negosiasi nuklir, Republik Islam Iran menganggap negosiasi sebagai suatu alat diplomasi yang efektif, bijaksana dan tegas untuk menjamin hak-hak tinggi rakyat Iran; Tetapi pada saat yang sama, kami percaya bahwa negosiasi untuk negosiasi (negosiasi tanpa hasil yang efektif) tidak bermanfaat bagi siapa pun. Amerika Serikat adalah pihak yang pertama kali mengambil angkah yang destruktif terhadap Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA). AS adalah satu-satunya pihak yang meninggalkan JCPOA. Oleh karena itu, pencabutan sanksi dan verifikasinya serta memastikan bahwa Amerika Serikat tidak menarik diri lagi dari JCPOA yang disahkan oleh Dewan Keamanan PBB, adalah proses yang harus dilalui dengan pendekatan saling menang (win-win) dan normalisasi hubungan perdagangan Iran dengan dunia serta pencabutan sanksi sepihak AS yang menindas . Iran pada pemicaraan nuklir di Wina menunjukkan niat baiknya dan walaupun pihak Barat tak memenuhi komitmennya sesuai JCPOA, Iran tetap berada dalam kesepakatan ini.

Berkaitan dengan perkembangan terkini di Afghanistan, Republik Islam Iran saat ini berkomunikasi dengan semua pihak dan menekankan pada pembentukan pemerintahan yang inklusif dengan partisipasi semua kelompok etnis; Untuk dapat memerangi terorisme dan penyeludupan narkotika serta memulihkan ekonomi rakyat Afghanistan secara efektif. Republik Islam Iran telah memerangi pandemi Covid-19 secara maksimal dengan memproduksi lima vaksin di dalam negeri antara lain vaksin COVIran Barekat, dan juga telah memvaksinasi lebih dari 4 juta pengungsi asal Afghanistan di Iran.

Berkaitan dengan masalah Palestina, Iran tidak mengakui rezim Zionis Israel. Iran menilhat Israel sebagai rezim yang tidak sah dan sumber ketidakamanan. Republik Islam dalam menghadapi rencana satu negara (single state) usulan Donald Trump atau dua negara (two states) yang tidak kunjung berhasil selama 70 silam, telah mengusulkan sebuah usulan dan terobosan baru kepada PBB yang didasari oleh beberapa prinsip antara lain pelaksanaan referendum yang menyeluruh dengan seluruh penduduk Palestina yang beragma Kristen, Yahudi dan Muslim serta pembentuan sebuh pemenrintahan di Palestina yang berangkat dari suara langsung masyarakat.

Normalisasi hubungan dengan Israel atau rencana "Abraham" yang disampaikan oleh Donald Trump akan menyebabkan perselisihan di umat Islam dan akan membawa ketidakamanan bagi masyarakat Muslim, dan pada kenyataannya akan melegitimasi rezim Zionis Israel dan mengesahkan pendudukannya atas tanah Palestina dan kota suci Al-Quds Al-Sharif. Republik Islam Iran mengutuk keras kelanjutan apartheid di tanah Palestina dengan pembunuhan dan penyiksaan masyarakat Palestina oleh rezim Zionis yang menyembunyikan ratusan bom nuklir di Wilayah Pendudukannya di Palestina. Iran juga mengutuk upaya normalisasi hubungan dengan rezim illegal ini dengan berbagai dalih dan menyerukan penolakan pendudukan rezim Zionis dan kembalinya tanah Palestina kepada penduduk aslinya. Kekuatan Barat seharusnya tidak menentukan nasib rakyat Palestina sepanjang sejarah

Bapak-bapak dan Ibu-ibu Yang Saya Banggakan

Pemerintah baru di Iran (Pemerintah ke-13) yang di pimpin oleh Dr. Seyed Ebrahim Raisi dalam agenda kerjanya akan melakukan transformasi sesuai dengan pendekatan “Langkah Kedua Revolusi Islam” dalam jangka pendek dan jangka panjang. Berkaitan dengan hal tersebut, mari kita simak peta jalan langkah kedua Revolusi Islam yang telah disusun oleh Ayatollah Seyed Ali Khamenei, Pimpinan Agung Republik Islam Iran pada tahun 2018 yang merupakan peringatan 40 tahun Republik Islam Iran.

ِREPUBLIK ISLAM IRAN DALAM 40 TAHUN SILAM
  1. Revolusi Islam Iran menjadi "awal era baru" di dunia melawan kubu kiri dan kanan modernitas. Slogan-slogannya Republik Islam Iran seperti kebebasan, moralitas, keadilan, kemerdekaan, martabat, rasionalitas dan persaudaraan, hingga kini masih cemerlang dan hidup. Revolusi Islam selalu memiliki "fleksibilitas dan kesiapan untuk memperbaiki kesalahannya", pada saat yang bersamaan "mempertahankan nilai-nilainya". Iran selalu siap untuk mempertahankan diri dalam menghadapi serangan musuh, walaupun Iran tidak akan menjadi pihak yang memulai sebuah kekerasan dan perang.
  2. Iran dengan slogan "Kita bisa", melewati masa keterpurukan pada periode Pahlavi dan Qajar serta berhasil menempatkan negara di jalur kemajuan pesat. "Stabilitas, keamanan, dan pelestarian integritas teritorial" Iran dipastikan selama 8 tahun perang yang dipaksakan. Selanjutnya Iran jadikan "sains dan teknologi" sebagai kekuatan pendorong negara untuk menciptakan infrastruktur vital, ekonomi dan sipil, dan ribuan perusahaan berbasis IPTEK didirikan. Peringkat ke-4 Iran di dunia dalam bidang ilmu nanoteknologi hanyalah salah satu indikator kemajuan negara. "Partisipasi politik" rakyat Iran dalam berbagai pemilu negara adalah berkat lain dari Republik Islam Iran. Rata[1]rata setiap tahun satu pemilihan umum diselenggarakan di Iran dimana hal ini meningkatkan pandangan, pengetahuan dan bobot politik masyarakat Iran serta memastikan keadilan berjalan dengan baik dalam negara. Peningkatan "spiritualitas dan moralitas" masyarakat dan perlawanan mereka terhadap kezaliman negara-negara adidaya dan penindas adalah keberhasilan lain dari Republik Islam Iran.
  3. Republik Islam Iran dengan kehadiran kaum mudanya (sebanyak 36 juta dari masyarakat Iran berusia antara 15 dan 40 dan 14 juta di antaranya memiliki pendidikan tinggi dari total populasi 80 juta), dan dengan berbagai peluang ekonomi, kekayaan alam dan SDM luar biasanya menduduki peringkat pertama di dunia. Dengan demikian Iran harus mengambil langkah keduanya dalamempat puluh tahun ke depan; Dengan pandangan optimis dan penuh harapan akan bantuan ilahi dan menghindari jatuh ke dalam berbagai uppaya dan fitnah kekuatan dan musuh Republik Islam Iran.
ِِREPUBLIK ISLAM IRAN DALAM 40 TAHUN KE DEPAN (MEMERLUKAN PENGAMBILAN TUJUH LANGKAH DAN MENGANDALKAN POTENSI PARA PEMUDA)
  1. Ilmu dan pengetahuan adalah hal yang menyebabkan harkat dan martabat suatu negara. Kebangkitan ilmu pengetahuan telah dimulai di Iran (sebelas kali pertumbuhan rata-rata ilmu pengetahuan di dunia dan peringkat ke-16 dalam pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi di antara 200 negara); Tapi ini adalah awal dari jalan dan kami harus mencapai puncak pengetahuan dunia.
  2. Memuliakan spiritualitas dan moralitas menentukan arah dan tujuan gerakan sosial dan individu meskipun dengan terdapat berbagai kekurangan dari segi materi, “spiritualitas dan moralitas” menyebabkan tumbuhnya gerakan masyarakat menuju saling memaafkan, saling membantu yang membutuhkan, meningkatkan kejujuran, kebajiksanaan dan percaya diri. Dalam hal ini, Bahasa berbagai alat media baru dan canggih yang menjadi sumber ancaman untuk nilai-nilai spiritual dan moral masyarakat, harus mendapatkan perhatian serius.
  3. Ekonomi bukan merupakan tujuan utama masyarakat Islam. Tetapi ekonomi yang kuat membuat negara tidak dapat disusupi. Tanpa Ekonomi pun tujuan negara tidak dapat dicapai. Tantangan sanksi pihak asing dan kekurangan manajemen di dalam negeri harus diatasi. Dan solusinya adalah pendekatan “ekonomi yang bertahan” atau endogeneity of Economy yaitu mendirikan ekonomi negara atas potensi dan kemampuan dalam negeri. Dalam pendekatan ini, ekonomi yang berbasis pengetahuan dan teknologi serta partisipasi aktif dari masyarakat sekaligus dengan menjalankan hubungan luar negeri dan meminimalkan peran pemerintah dalam roda ekonomi negara, menjadi prinsip utama.
  4. Keadilan dan memerangi korupsi; yang saling membutuhkan. Oleh karena itu, korupsi ekonomi, moral dan politik merupakan pukulan besar terhadap legitimasi negara dan perjuangan nyata harusdilakukan untuk melawannya. Keadilan merupakan tujuan utama dari semua wahyu dan teologi ilahi, maka harus dipercepat untuk menghilangkan berbagai kekurangan dan kemiskinan serta mencegah perpecahan kelas ekonomi dan sosial yang lebih mendalam. Mendapatkan keuntungan ekonomi dan meraih kekayaan adalah hal yang didorong; tetapi diskriminasi dan korupsi adalah dilarang.
  5. Kemerdekaan dan kebebasan; yang merupakan dua nilai ketuhanan menurut nilai-nilai Islam. Kemerdekaan adalah kebebasan bangsa dari paksaan kekuatan penguasa dunia; Dan kebebasan sosial adalah hak untuk memutuskan, bertindak dan berpikir bagi semua anggota masyarakat. Kemerdekaan bukanlah memenjarakan politik dan ekonomi negara di antara perbatasannya, dan kebebasan tidak boleh didefinisikan bertentangan dengan moralitas, hukum, nilai-nilai ketuhanan, dan hak-hak publik .
  6. Martabat nasional, hubungan luar negeri dan demarkasi dengan musuh; Yang merupakan cabang dari asas martabat, kebijaksanaan, dan kemaslahatan dalam hubungan internasional. Dengan kata lain, pada saat melestarikan nilai-nilai revolusioner dan nasional, kita tidak perlu takut akan ancaman negara-negara adidaya. Kita harus menyelesaikan masalah kita yang dapat diselesaikan dengan mereka dengan martabat, kebijaksanaan, dan kemaslahatan.
  7. Gaya Hidup; Bahwa Barat sedang mencoba untuk mempromosikan gaya hidupnya yang membawa kerugian moral, ekonomi, keamanan dan politik; Oleh karena itu, gaya hidup Islami-Mohammadi harus menjadi prioritas.

Pada akhir kata, saya ucapkan terima kasih atas perhatian para dosen, mahasiswa, dan cendekiawan yang saya hormati, dan saya doakan yang terbaik untuk pembangunan negara Anda, Indonesia . Wasalamualaikum Wr. Wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *