Perempuan dan Keluarga: Di Antara Standar TikTok dan Realitas Rumah Tangga

Belakangan ini, kalau kita scroll sedikit saja di media sosial atau dengar obrolan sekitar, pembahasan tentang perempuan—terutama soal rumah tangga—terasa makin ke mana-mana. Bukan makin jelas, justru makin kabur. Dulu mungkin kita mengenal dua kutub klasik: pandangan patriarki dan kesetaraan gender. Sekarang, polanya berubah. Muncul arus baru yang sama-sama trending, sama-sama merasa paling benar, tapi sering kali kehilangan keseimbangan.

Salah satu yang paling terasa datang dari media sosial, terutama TikTok. Hari ini, banyak masyarakat Indonesia—dari remaja sampai orang dewasa—punya relasi yang intens dengan platform ini. Tidak sedikit yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sana: sekadar menikmati konten, ikut berkomentar, atau bahkan membangun identitas diri. Dari sini, pelan-pelan muncul sesuatu yang disebut sebagai “standar TikTok”.

Awalnya terdengar sepele. Hanya opini-opini ringan tentang gaya hidup, cara berpakaian, atau bagaimana seseorang seharusnya bersikap. Tapi lama-lama, opini ini berubah jadi semacam patokan. Apa yang viral dianggap benar. Apa yang tidak sesuai, dianggap salah. Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa tertekan kalau tidak bisa memenuhi “standar” tersebut.

Dalam konteks relasi, termasuk rumah tangga, standar ini juga ikut bermain. Muncul anggapan bahwa seorang istri tidak perlu pandai memasak, mencuci, atau mengurus rumah. Alasannya sederhana: kalau suami bisa melakukan itu, kenapa harus istri? Sekilas terdengar seperti upaya keadilan. Tapi dalam praktiknya, ini sering bergeser jadi sikap lepas tangan. Bukan lagi soal berbagi peran, tapi soal tidak merasa perlu terlibat.

Di sinilah muncul apa yang tadi kita sebut sebagai “istri standar TikTok”. Bukan sekadar soal pembagian tugas, tapi tentang cara pandang yang cenderung pasif. Rumah tetap berjalan, tapi tanpa rasa memiliki yang kuat. Dan ketika satu pihak memilih untuk tidak ikut ambil bagian, keseimbangan itu pelan-pelan bergeser.

Menariknya, standar ini tidak berhenti di satu titik. Ia merembet ke banyak aspek lain. Dalam relasi taaruf, misalnya, muncul tuntutan bahwa laki-laki harus selalu memberi—hadiah, perhatian berlebih, bahkan gaya hidup tertentu. Kalau tidak, dianggap tidak memenuhi standar. Bagi sebagian orang, ini dianggap wajar, bahkan minimum. Tapi bagi yang lain, ini terasa berlebihan dan tidak realistis.

Respons masyarakat pun terbelah. Ada yang mendukung penuh. Mereka melihat standar ini sebagai bentuk usaha untuk hidup lebih baik—lebih diperhatikan, lebih dihargai. Dalam pandangan ini, memenuhi standar berarti menunjukkan keseriusan dalam relasi. Siapa yang tidak mampu, dianggap kurang berusaha.

Tapi di sisi lain, tidak sedikit yang melihatnya sebagai sesuatu yang problematis. Standar ini dinilai tidak hanya tidak realistis, tapi juga berpotensi merusak. Tekanan sosial meningkat. Rasa tidak percaya diri tumbuh, terutama di kalangan remaja. Bahkan, dalam banyak kasus, perbedaan ekspektasi yang dipicu oleh standar ini berujung pada konflik serius—pertengkaran dalam rumah tangga, sampai perceraian.

Lebih jauh lagi, fenomena ini juga memunculkan masalah yang lebih gelap: cyberbullying, tekanan psikologis, bahkan tindakan ekstrem yang tidak seharusnya terjadi. Semua berawal dari satu hal yang tampak sederhana—standar yang tidak jelas, tapi dipaksakan sebagai suatu keharusan.

Di sisi lain, masih ada cara pandang yang sudah lama hidup: bahwa urusan domestik sepenuhnya adalah tugas perempuan. Dalam pola ini, rumah adalah tanggung jawab istri tanpa banyak ruang untuk dibicarakan. Tidak ada pembagian, tidak ada fleksibilitas. Semuanya dianggap sudah jelas sejak awal. Sekilas, ini tampak sederhana. Tapi justru di situlah masalahnya. Perempuan dipersempit hanya pada satu peran, seolah seluruh kehidupannya berputar di sana. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Perempuan juga hidup dalam banyak lapisan—punya potensi, punya peran sosial, bahkan sering kali ikut menopang kehidupan keluarga. Ketika semua itu diabaikan, yang terjadi bukan keteraturan, tapi ketimpangan yang dianggap wajar.

Di tengah situasi yang agak riuh ini, buku Perempuan dan Keluarga terasa seperti menarik kita pelan-pelan keluar dari kebisingan. Buku ini tidak ikut memilih salah satu kubu. Ia justru mengajak kita kembali ke hal yang lebih mendasar: cara memandang perempuan secara utuh.

Sejak awal, buku ini sudah menggeser perspektif yang sering kita anggap biasa. Perempuan tidak ditempatkan sebagai “pelengkap” masyarakat, tapi sebagai salah satu penopangnya. Ini kelihatannya sederhana, tapi efeknya besar. Karena dari sini kita mulai melihat bahwa keluarga—yang sering disebut sebagai unit paling dasar dalam kehidupan—tidak bisa dipahami tanpa melihat peran perempuan di dalamnya.

Cara buku ini menyusun pembahasan juga terasa rapi dan enak diikuti. Tidak langsung berat, tapi bertahap. Dimulai dari kedudukan perempuan yang dipandang mulia, lalu masuk ke isu kesetaraan. Tapi menariknya, kesetaraan di sini tidak dimaknai sebagai “harus sama”. Buku ini justru menolak cara pikir itu. Kesetaraan dipahami sebagai keadilan—menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai peran dan hakikatnya.

Ini penting, terutama di tengah wacana yang sering memaksa kita memilih: mau sama persis atau berbeda total. Buku ini seperti bilang, tidak harus begitu. Ada jalan tengah yang lebih masuk akal.

Setelah itu, pembahasan masuk ke hal yang lebih konkret. Perempuan dilihat dalam berbagai peran: sebagai individu, sebagai istri, sebagai ibu, dan sebagai bagian dari masyarakat. Susunan ini terasa penting, karena mengingatkan kita bahwa perempuan tidak bisa direduksi hanya pada satu identitas. Ia hadir di banyak ruang, dan setiap ruang itu punya makna.

Salah satu bagian yang cukup kuat adalah ketika buku ini membahas peran perempuan dalam membentuk manusia. Keluarga tidak lagi dilihat sekadar sebagai urusan domestik, tapi sebagai tempat lahirnya generasi. Dan di situ, perempuan punya posisi yang sangat menentukan. Bukan sekadar “pendamping”, tapi benar-benar pusat dalam proses pembentukan karakter.

Menariknya lagi, buku ini tidak berhenti di dalam rumah. Ia juga mengajak kita melihat perempuan dalam konteks yang lebih luas, termasuk membandingkannya dengan cara pandang Barat. Di sini muncul kritik yang cukup tajam—bahwa perempuan sering direduksi jadi objek, dinilai dari penampilan luar semata. Buku ini menolak ukuran sempit itu, dan mengingatkan bahwa kehormatan perempuan tidak terletak di sana, tapi pada nilai dan peran yang ia bawa.

Di bagian akhir, pembahasan makin luas. Perempuan tidak hanya dilihat dalam ruang keluarga, tapi juga dalam sejarah dan perubahan sosial. Ia terlibat dalam gerakan, dalam revolusi, dalam proses panjang membentuk arah masyarakat. Ini seperti penutup yang mengingatkan: peran perempuan tidak pernah sesempit yang sering dibayangkan.

Akhirnya, buku Perempuan dan Keluarga tidak datang dengan gagasan yang rumit atau istilah yang berlapis-lapis. Ia justru melakukan sesuatu yang lebih mendasar: merapikan cara pandang kita. Bahwa persoalan ini bukan cuma soal siapa mengerjakan apa. Bukan juga soal siapa yang paling benar secara dalil atau konsep. Tapi tentang bagaimana dua orang membangun kehidupan bersama—dengan kesadaran, dengan keterlibatan, dan dengan rasa saling memiliki. Karena rumah tangga tidak dibangun dari klaim. Ia tumbuh dari kehadiran.

©2025 Sadra International Institute, All rights reserved.