
Tangerang Selatan, 15 Mei 2025 — Sadra International Institute bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan acara Bedah Buku Legenda Para Sufi pada Kamis siang, 15 Mei 2025, pukul 13.00–16.00 WIB, bertempat di Aula Teater H.A.R Partosentono, Lantai 4, Gedung Fakultas Ushuluddin. Acara ini menghadirkan dua narasumber pakar tasawuf: Dr. Hj. Wiwi Siti Sajaroh, M.Ag. (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif) dan Nano Warno, Ph.D. (Dosen STAI Sadra), serta diawali sambutan dari Wakil Direktur Sadra International Institute, M. Syamsul Arif, Ph.D., Kaprodi Ilmu Tasawuf, Dr. Hasani Ahmad Said, S.Th., M.A., dan Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin, Dr. Aktobi Ghazali, M.A.
Dalam sambutannya, Dr. Hasani mengapresiasi kerja sama ini yang baru pertama kali terjalin secara resmi antara Program Studi Ilmu Tasawuf dan Sadra International Institute. Ia berharap kerja sama ini berlanjut dalam bentuk kolaborasi keilmuan yang memperkaya pemahaman tasawuf dan memperluas horizon spiritual mahasiswa. “Legenda para sufi bukan sekadar warisan sejarah, tetapi cermin yang bisa diteladani dalam kehidupan akademik dan praksis spiritual mahasiswa,” ungkapnya.
Sementara itu, Syamsul Arif, Ph.D., mewakili Direktur Sadra, Dr. Abdelaziz Abbaci, mengangkat pentingnya memahami genealogi para sufi. Ia mengajak peserta untuk tidak sekadar mengagumi karamah para wali, tetapi menggali intisari spiritualitas mereka yang bisa dimanifestasikan dalam ranah strategis, termasuk politik. Ia mencontohkan Imam Khomeini sebagai sufi kontemporer yang mampu mentransformasikan ajaran tasawuf menjadi basis pembangunan sistem pemerintahan Islam yang adil dan visioner.
Dalam sesi pemaparan, Nano Warno, Ph.D., menegaskan bahwa Tadzkiratul Auliya karya Fariduddin Attar—yang menjadi basis buku Legenda Para Sufi—bukan hanya kumpulan kisah mistik, tetapi sebuah hagiografi yang sarat nilai-nilai terapi spiritual dan pengembangan kecerdasan emosional. Menurutnya, kisah-kisah para wali dalam kitab ini bisa digunakan sebagai mindfulness therapy berbasis tasawuf falsafi yang menyentuh sisi terdalam kesadaran manusia, membantu proses penyembuhan batin, dan membimbing individu menapaki jalan transendensi.

Senada dengan itu, Dr. Wiwi Siti Sajaroh menyoroti bahwa buku Legenda Para Sufi membuka jendela untuk memahami transformasi spiritual para tokoh sufi—dari kezuhudan pribadi menuju fondasi tasawuf falsafi yang terstruktur dan reflektif. Ia menekankan bahwa studi tasawuf bukan sekadar studi tekstual atau sejarah mistik, melainkan sebuah laku dan jalan penyucian jiwa yang tetap relevan di tengah kegelisahan manusia modern. Melalui pendekatan berbasis al-Qur’an dan hadis, ia mengajak mahasiswa untuk menjernihkan prasangka terhadap tasawuf dan menjadikannya sebagai jalan memperhalus etika sosial, memperkuat hubungan ilahiah, serta membangun daya tahan spiritual dalam menghadapi realitas kehidupan yang keras dan tak pasti.
Acara yang dihadiri oleh para mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika Fakultas Ushuluddin ini berlangsung hangat dan reflektif. Diakhiri dengan sesi tanya-jawab, pernyataan penutup, dan doa bersama, kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal dialog berkelanjutan antara peminat tasawuf akademik dan institusi-institusi yang concern terhadap pembangunan spiritualitas Islam yang rasional dan berdampak sosial.
