Jakarta, 17 Desember — Sadra International Institute dan STAI Sadra bekerja sama dengan MNC University menggelar seminar bertema Etika Religius: Membangun Karakter di Era Gen Z. Seminar ini diselenggarakan sekaligus dalam rangka membedah buku Etika Islam karya Faidh Kasyani yang diterbitkan oleh Sadra Press.
Acara diawali dengan sambutan Rektor MNC University yang diwakili oleh Dr. Bernadetta Kwintiana Ane (Wakil Rektor II MNC University). Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa seminar ini dirancang sebagai bagian dari mata kuliah Etika dan Agama. Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk membuka ruang dialog lintas agama guna mempertemukan keberagaman dalam semangat saling menghormati serta belajar satu sama lain.

Menurutnya, Gen Z adalah generasi yang hidup di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang sangat cepat, sekaligus dihadapkan pada tantangan moral yang semakin kompleks. Di sinilah etika religius memiliki peran penting sebagai fondasi pembentukan karakter—bukan untuk memisahkan, melainkan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan universal. Perbedaan bukanlah penghalang, tetapi justru memperkaya cara pandang dalam membangun karakter generasi muda yang berintegritas dan berkeadaban demi membangun negara. Ia mengapresiasi terselenggaranya acara ini dan berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal kolaborasi berkelanjutan dalam menanamkan nilai-nilai etika dan religius yang relevan bagi generasi Z.
Acara kemudian dilanjutkan dengan keynote speech oleh Dr. Abdelaziz Abbaci selaku Direktur Sadra International Institute. Ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini dan menegaskan bahwa membangun etika religius di era Gen Z merupakan tantangan yang sangat besar. Sadra Institute, sebagai lembaga penelitian, menerbitkan buku Etika Islam sebagai kerangka teoretis bagi konsep-konsep etika universal yang dibangun berdasarkan akal. Menurutnya, semua manusia memiliki karakteristik yang sama, yakni berakal.

Ia menekankan bahwa tantangan zaman sekarang berbeda dengan tantangan pada masa para nabi. Pada masa nabi, tantangan bersifat fisik dan kasat mata, sedangkan pada zaman ini tantangan jauh lebih besar dan sulit karena musuh tidak hanya hadir dalam bentuk nyata, tetapi juga dalam bentuk pikiran, imajinasi, informasi, dan media. Oleh karena itu, kriteria serta nilai-nilai etika dan karakter perlu dibangun ulang agar sesuai dengan tantangan zaman.
Dr. Abbaci kemudian mengutip ayat kalimatin sawa (QS. Ali ‘Imran [3]: 64), yang menunjukkan bahwa pada tataran transendental semua manusia sama-sama menyembah Allah, sementara pada tataran bawah, yakni syariat, terdapat perbedaan. Ia melanjutkan bahwa buku Etika Islam yang dibedah dalam seminar ini merupakan karya seorang filsuf bernama Faidh Kasyani, murid dari filsuf besar Mulla Sadra. Mulla Sadra dikenal sebagai pengembang filsafat Hikmah Muta‘aliyah, yang berfokus pada bagaimana manusia mengembangkan potensi-potensi eksistensialnya menuju diri yang sejati demi mencapai kebahagiaan. Faidh Kasyani menulis buku ini berdasarkan filsafat Mulla Sadra. Di dalamnya, pembaca akan menemukan nilai-nilai etika serta cara membangun karakter yang bersifat dinamis.
Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan para narasumber. Hadir sebagai narasumber Dr. Benny Susilo dan Yohanes Mitakda, M.A. Acara dimoderatori oleh M. Rezki Oktavianoor, M.Si.
Yohanes Mitakda menyoroti konsep “hati” dalam buku tersebut. Ia mengungkapkan bahwa kata yang paling banyak dikutip dalam indeks buku adalah kata hati. Dari total 434 halaman, kata ini dikutip hampir di setiap halaman. Secara matematis, kata hati muncul sebanyak 234 kali, yang menunjukkan keseriusan penulis dalam memusatkan perhatian pada tema ini. Buku ini, menurutnya, merupakan salah satu buku yang menuntun pembaca untuk memanajemen kalbu.

Hati diibaratkan sebagai rumah yang memiliki banyak pintu; pintu-pintu ini menjadi jalur masuk dan keluar menuju inti hati itu sendiri. Hati yang dimaksud bukanlah hati biologis (liver), melainkan kualitas spiritual, tempat di mana Allah hadir dan manusia bertemu dengan Sang Pencipta. Menurut Kasyani, hati bukan hanya tempat pertemuan tersebut, tetapi juga sarana bagi manusia untuk mencapai tujuan akhirnya, yakni kesempurnaan di dalam Tuhan. Dari sudut pandang ini, buku tersebut menjadi sangat menarik. Kasyani mengeksplorasi dinamika hati serta bagaimana hati berevolusi. Oleh karena itu, buku ini diberi subjudul Evolusi Diri, yang bergerak dari hati—bagaimana hati berevolusi hingga bersatu dengan Sang Pencipta.
Buku ini terdiri atas enam bab, yaitu: (1) Ilmu, (2) Karakter Buruk dan Cara Membersihkannya, (3) Keburukan Dunia dan Tipuannya, (4) Karakter Mulia dan Cara Memperolehnya, (5) Ibadah dan Rahasianya, serta (6) Perbuatan Baik. Keistimewaan buku ini terletak pada cara pandangnya yang pertama-tama melihat hati sebagai suatu objek ilmu yang bersifat ilmiah.
Dr. Benny Susilo kemudian menyoroti relevansi buku Etika Islam bagi generasi Gen Z serta cara mendekati dan membacanya. Ia mengawali pembahasan dari kata pengantar penulis. Faidh Kasyani, dalam pengantarnya, menyatakan bahwa ia merujuk pada al-Qur’an, sunah Nabi, perkataan para imam, serta pandangan ulama lain, terutama Imam Ghazali. Ia sejalan dengan Imam Ghazali dalam pandangan bahwa hati, jiwa, dan ruh pada hakikatnya adalah satu dan merupakan inti diri manusia.

Menurut Dr. Benny, masalah manusia di mana pun dan kapan pun selalu sama, yakni masalah hati. Yang berbeda hanyalah aksiden-aksidennya. Setiap manusia memiliki tiga daya utama: akal, syahwat, dan ghadab. Masalah manusia pasti berkaitan dengan ketiga daya ini; perbedaannya hanya terletak pada kasus-kasus konkret yang dihadapi. Dengan demikian, baik generasi X maupun generasi Z menghadapi persoalan yang sama pada tingkat esensial, meskipun dalam konteks yang berbeda. Oleh karena itu, buku ini tetap relevan sepanjang zaman, karena inti persoalan terletak pada jiwa manusia dan cara memanajemen daya-daya jiwa tersebut.
Ia kemudian menjelaskan perbedaan pengertian moral, etika, dan akhlak, baik secara bahasa maupun istilah, serta menguraikan berbagai teori etika seperti deontologi, utilitarianisme, virtue ethics, dan egoisme. Buku ini mengajak pembaca untuk menilai perbuatan moral berdasarkan keseimbangan daya-daya jiwa. Jiwa dikatakan sehat apabila daya-daya tersebut mengekspresikan aktivitasnya secara seimbang dan adil. Misalnya, daya akal: jika berlebihan akan melahirkan kelicikan, jika kurang akan menghasilkan kebodohan, dan jika berada di tengah akan melahirkan kebijaksanaan. Pada daya ghadab, posisi tengah melahirkan keberanian, sementara pada daya syahwat melahirkan kesederhanaan. Dari sini lahir empat sifat utama, yakni keadilan, kebijaksanaan, keberanian, dan kesederhanaan. Seluruh sifat lainnya berada di bawah naungan empat sifat utama tersebut. Inilah fondasi bangunan etika Faidh Kasyani dalam buku Etika Islam.
Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan diajukan, terutama yang berkaitan dengan hati dan daya-daya jiwa, serta relasinya dengan dunia algoritma dan pengaruh media sosial terhadap kondisi kejiwaan manusia. Diskusi berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 140 mahasiswa serta civitas akademika MNC University.

