
Nano Warno, Ph. D
Demarkasi dan distingsi ilmu itu karena subyeknya (mawdhu) dan mawdhu irfan lebih luas dari filsafat. Obyek kajian irfan Islam adalah ‘ada’ secara absolut (muthlaq al-wujud) bahkan ‘ada’ pun tidak dapat mewakili secara sepenuhnya, namun karena tidak ada kata lain maka terpaksa meminjam ‘ada’ (being, existence) yang biasa digunakan oleh filsafat. Dari sisi ini irfan sebenarnya sedang ingin menurunkan levelnya agar dapat berkomunikasi dengan filsafat atau agar para filsuf dapat
memahami irfan.
Sayid Kamal Haydari memberi contoh misalnya manusia adalah konsep yang dipredikatkan kepada Zaid dari aspek kemanusiaan Zaid dan tidak dari aspek lain yang partikular sementara irfan tidak hanya memperhatikan aspek insaniyahnya tapi juga seluruh aspek lain yang ada pada Zaid. Ilmu hakiki memiliki subject matter (mawdhu’) yang lebih luas dan
lebih komprehensif. Tentang ontologi misalnya terlihat ada distingsi yang mendetail sekalipun semua aliran ilmu hakiki mendiskusikan tentang wujud.

Sebenarnya irfan lebih senang menggunakan kata al-Haq dari wujud, sebab al-Haq juga bahasa yang digunakan oleh al-Quran. Yang kedua irfan islam menggunakan terminologi arafa, ya’rifu atau tahqiq (merelisasikan). Karena itu para arif akan menjadi para pewaris para nabi jika mencapai maqam wali dalam makrifat dan hakikat-hakikat dan ulama atau kaum mujtahidin adalah pewaris para nabi dalam syariat dengan ijtihad mereka dan awliya pewaris batin-batin para nabi. Dan awliya yang ulama adalah pewaris maqam jam’i yang menggabungkan Ilmu-ilmu esoteris dan eksoteris.
Filsafat memberikan tujuan dan orientasi kepada ilmu atau katakanlah sains agar seorang ilmuwan tidak menjadi manusia yang hampa dan gersang.
Menurut Haidar Bagir, filsafat memberikan dasar orientasi, tujuan, intensional, sementara irfan tidak hanya memberikan orientasi, tujuan tapi juga penguasaan, kendali, kemenyeluruhan kognisi dan emosi dan ontologis (sarayan wujud).
Pilar-pilar (teori-teori) irfan yaitu wahdatul wujud, insan kamil, kosmologi, hirarki epistemologi dan burhan. Irfan (spiritualisme) memiliki relasi dengan al-Haq. Seorang filsuf dan arif bertemu di akhir pertemuan sang filsuf mengatakan, aku memahami apa yang dilihat (kasyf) olehnya dan ia (sufi) bisa melihat (kasyf) dengan apa yang kupahami. Pernyataan tersebut dengan jernih menggambarkan harmonisasi antara sufi dan filsuf di zaman itu.
Dalam kitab klasik irfan dijelaskan tentang ciri-ciri seorang arif, Yahya bin Muazd: seorang arif mencapai hakikat makrifat, jika memiliki lima sifat: makrifatul wahdaniyah, iqrar bi rububiiyah, tarku andad, wafa bi ubudiyyah, dan ikhlas bi fardaniyah.
Seorang ahli makrifat ditanya kapan seseorang mengetahui bahwa dirinya ahli makrifah : dijawab yaitu ketika kalbunya melayang-ayang terbang dari al-Haq, ke al-Haq dengan tidak sedikitpun berpaling kepada selain-Nya. Jika ia tidak merasa bahagia dengan al-Haq maka akan mati menderita.
