Dr. Hj. Wiwi Siti Sajaroh, M.Ag.
Ditranskrip dan diedit oleh Imandega

 


Di Jurusan Ilmu Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah, mahasiswa diperkenalkan dengan sejumlah mata kuliah yang membentuk fondasi pemahaman mendalam tentang tasawuf. Di antaranya adalah Pengantar Tasawuf, Tasawuf Falsafi, Tasawuf Pasca Ibn ‘Arabi, Tasawuf Nusantara, Tasawuf Klasik, Tasawuf Modern, Tasawuf Tarekat, serta kajian tentang Tasawuf di Indonesia. Dalam konteks ini, dukungan akademik dan motivasional dari lembaga seperti Sadra Institute menjadi sangat penting. Hal ini mengingat banyaknya tokoh-tokoh besar tasawuf yang berasal dari Iran, yang kontribusinya dalam pengembangan pemikiran tasawuf bersifat mencerdaskan dan mendalam.

Buku Legenda Sufi yang menjadi bahan kajian kami memperkenalkan tokoh-tokoh sufi sejak abad pertama dan kedua Hijriah. Pada periode ini, kita mengenal figur-figur penting seperti Hasan al-Basri, Ibrahim bin Adham, Rabi‘ah al-‘Adawiyah, dan Dzu al-Nun al-Misri. Para tokoh ini sering disebut sebagai para zahid, yakni individu yang memilih hidup asketik dan menjauhi keduniawian. Namun dalam studi kontemporer, mereka diakui sebagai pionir dunia tasawuf. Secara historis, ajaran mereka berfokus pada praktik zuhud dan akhlak, yang menjadi fondasi awal perkembangan tasawuf.

Misalnya, Ibrahim bin Adham adalah contoh nyata transformasi spiritual: dari kehidupan istana yang mewah, ia memilih jalan sederhana dan spiritual yang menekankan aspek moralitas dan hubungan etis dengan sesama makhluk. Rabi‘ah al-‘Adawiyah, satu-satunya tokoh perempuan yang diperkenalkan secara eksplisit dalam jilid pertama buku tersebut, dipandang oleh al-Taftazani sebagai pelopor transisi dari konsep zuhud ke dalam tasawuf teoritis. Konsep mahabbah (cinta ilahiah) yang beliau gagas menempatkan Tuhan bukan semata sebagai objek rasa takut, melainkan sebagai kekasih yang dekat dan layak dicintai sepenuh hati.

Dalam jilid-jilid selanjutnya, buku ini memperkenalkan tokoh-tokoh seperti Bāyazīd al-Bistāmī dan sufi lainnya yang oleh al-Taftazani dikategorikan sebagai sufi “syibh falsafi”—yakni tokoh-tokoh yang memiliki kedekatan pemikiran dengan tasawuf falsafi, meskipun belum secara penuh memformulasikannya secara filosofis. Menurut al-Taftazani, tasawuf falsafi sebagai suatu mazhab pemikiran baru muncul secara sistematis pada abad ke-6 Hijriah, yang ditandai dengan kemunculan Ibn ‘Arabi sebagai figur utama.

Dalam mata kuliah Tasawuf Nusantara, diperkenalkan pula tokoh-tokoh yang memiliki karakteristik pemikiran tasawuf falsafi, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Abdurrauf Singkel, dan Nuruddin al-Raniri. Meskipun al-Raniri berasal dari India, pengaruh pemikirannya dalam konteks tasawuf di Nusantara cukup signifikan. Di wilayah Jawa, tokoh seperti Syekh Abdul Muhyi dikenal dengan ajaran Martabat Tujuh, sebuah sistem yang merepresentasikan bentuk tasawuf falsafi yang khas. Pada abad ke-20, figur seperti Hasan Mustafa di Jawa Barat, yang juga dikenal sebagai sastrawan, turut mengembangkan corak tasawuf falsafi dengan basis ajaran Martabat Tujuh sebagaimana yang dirumuskan oleh Al-Burhanpuri.

Pemahaman terhadap konsep-konsep ini penting untuk memberikan landasan teoritis yang memadai saat membaca karya-karya tasawuf, baik yang bersifat normatif maupun naratif. Dalam pengantar pengajaran tasawuf, terdapat tiga kesalahpahaman utama yang kerap muncul dalam masyarakat: pertama, anggapan bahwa tasawuf bertentangan dengan syariat; kedua, asumsi bahwa tasawuf bersifat anti-sosial; dan ketiga, pandangan bahwa tasawuf mendorong keterasingan total dari dunia. Ketiga anggapan tersebut perlu diluruskan. Dalam konteks sejarah, misalnya, sikap meninggalkan dunia yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh seperti Hasan al-Basri dan Ibrahim bin Adham tidak serta-merta dimaknai sebagai penolakan terhadap dunia secara mutlak, melainkan sebagai bentuk kritik sosial terhadap masyarakat yang telah terlalu larut dalam keduniawian.

Hal penting lainnya adalah bahwa ajaran tasawuf harus senantiasa berlandaskan kepada al-Qur’an dan hadis. Bila suatu ajaran tasawuf menyimpang dari dua sumber utama tersebut, maka validitasnya patut dipertanyakan. Tentu saja, pengaruh eksternal dari budaya atau ajaran lain tidak bisa dihindari, mengingat manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dengan komunitas lain.

Inti ajaran tasawuf terletak pada bagaimana manusia membangun komunikasi ruhaniah dengan Tuhan. Pertanyaan yang sering muncul: apakah mungkin manusia berkomunikasi dengan Tuhan? Jawabannya sangat mungkin. Bukankah dalam salat dan doa, kita melakukan komunikasi tersebut? Hanya saja, pemahaman komunikasi dalam tasawuf berbeda dengan komunikasi verbal biasa. Komunikasi ruhaniah adalah kehadiran batiniah Tuhan dalam kesadaran seorang hamba, meskipun tidak secara fisik terlihat—sebuah pelajaran mendalam dari konsep ihsan.

Misalnya, dalam ajaran Martabat Tujuh, dikenal konsep alam mitsal, yaitu alam perantara antara dunia fisik dan alam ruhani. Untuk memudahkan mahasiswa memahami hal ini, saya sering memberikan analogi mimpi. Ketika seseorang bermimpi bertemu dengan orang yang dicintainya, ia mungkin tidak menyentuh secara fisik, tetapi kehadiran orang itu terasa nyata. Demikianlah komunikasi ruhaniyah dapat dijelaskan secara sederhana.

Tasawuf sebagai disiplin keilmuan juga memiliki potensi besar dalam ranah penyembuhan psikologis. Di banyak perguruan tinggi, tasawuf kerap digabungkan dengan studi psikoterapi. Namun, di UIN Jakarta, Tasawuf dipertahankan sebagai program studi tersendiri. Hal ini mungkin karena tasawuf pada dasarnya sudah sarat dengan nilai-nilai penyembuhan batiniah dan spiritual, meski belum secara eksplisit dirumuskan dalam bentuk psikoterapi.

Sebagai contoh, konsep khauf (takut kepada Tuhan) dan raja’ (harapan akan rahmat-Nya) merupakan dua elemen penting dalam menjaga stabilitas psikologis seorang mukmin. Bila nilai-nilai ini dipahami secara mendalam, seseorang akan memiliki kekuatan batin yang cukup untuk menghadapi penderitaan, kesedihan, bahkan kehilangan. Saya pribadi mengalami masa-masa sulit, seperti kehilangan pasangan hidup, namun keyakinan terhadap rahmat dan kebijaksanaan Tuhan menjadikan saya tetap tegar. Di titik ini, saya percaya bahwa Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta bukan karena Ia tidak peduli, tetapi karena Ia tahu apa yang terbaik bagi kita.

Sebagai ilustrasi, seorang anak kecil mungkin meminta kepada orang tuanya sebuah sepeda motor. Namun, orang tua tentu tidak akan langsung mengabulkannya karena tahu bahwa pemberian itu bisa membahayakan. Demikian pula Allah tidak serta-merta mengabulkan doa hamba-Nya karena Ia tahu waktu dan bentuk yang terbaik bagi pengabulan tersebut.

Maka, membaca Legenda Sufi ini adalah juga membaca diri. Tiga jilid buku ini bisa menjadi cahaya jika kita mendekatinya dengan kesiapan ruhani. Membacanya bukan dengan logika belaka, tapi dengan hati yang jernih. Jika kita buka mata batin, maka kita akan mendapat pencerahan yang bukan hanya ilmiah, tapi juga eksistensial.

Semoga ilmu tasawuf yang kita pelajari, semakin meneguhkan cinta kita kepada Allah, semakin memperhalus hubungan kita dengan sesama, dan semakin menumbuhkan keyakinan bahwa jalan ruhani ini bukan hanya jalan yang indah, tetapi juga jalan yang menyembuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

©2025 Sadra International Institute, All rights reserved.