
Jakarta, 12 Feb 2026 — Sadra International Institute bekerja sama dengan Universitas Paramadina dan Kajian Kang Jalal (KKJ) gelar launching dan bedah buku 40 Human Virtues: Pendar-Pendar Hikmah Nurcholish Madjiddi Aula Gedung T.P. Rachmat, Universitas Paramadina. Acara ini dilaksanakan dalam rangka mengenang Cak Nur pada Dies Natalis Univ Paramadina ke-28. Acara ini dihadiri oleh Prof. Didik J. Rachbini selaku rektor Paramadina, Ibu Omi Komaria Madjid yang merupakan istri Almarhum Cak Nur, dan para pembedah buku yakni Dr. Husain Heriyanto, Dr. Budhy Munawwar Rachman, K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, Dr. Abdelaziz Abbaci, dan Ibu Donna Abdul Latief. Diskusi dipandu oleh Mishka Husen Balfas yang menjaga dialog tetap fokus dan dinamis.
Acara dibuka oleh Rektor Universitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini, yang menekankan pentingnya merawat tradisi intelektual yang berani, kritis, dan berakar pada nilai-nilai moral. Sambutan berikutnya dari Ibu Omi menyoroti kondisi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan serius, baik di bidang sosial, politik, maupun moral. Ia mengenang almarhum Nurcholish Madjid sebagai sosok intelektual yang berani bersikap kritis, jujur, dan konsisten dalam menyuarakan nilai-nilai keadilan, kebebasan berpikir, dan kemanusiaan.
Pembahasan buku dilakukan secara mendalam oleh para narasumber. Dari pemaparan semua narasumber mengemuka satu benang merah penting: Cak Nur tidak dapat direduksi sebagai pemikir neomodernis-liberal sebagaimana kerap dilekatkan oleh sebagian kalangan. Justru, sejumlah pemapar menegaskan kuatnya corak neo-tradisionalis dalam pemikiran beliau.
Penegasan ini tampak dari konsistensi Cak Nur yang selalu menyandarkan gagasannya pada Tauhid, al-Qur’an, dan tradisi intelektual Islam klasik. Ia tidak pernah mengesampingkan syariat. Sebaliknya, pembacaan terhadap modernitas dilakukan dari dalam kerangka keimanan dan komitmen pada prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Tuduhan bahwa Cak Nur tunduk pada arus sekularisme modern menjadi tidak relevan ketika keseluruhan karya dan argumentasinya dibaca secara komprehensif.
Dimensi lain yang mengemuka adalah perhatian Cak Nur terhadap ekoteologi. Dalam sejumlah telaah yang dibahas dalam buku ini, manusia ditempatkan sebagai khalifah yang memikul tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga keseimbangan alam. Gagasan tentang kekhalifahan tidak berhenti pada wacana teologis, melainkan diterjemahkan sebagai etika ekologis yang konkret. Spiritualitas, dalam pandangan Cak Nur, tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab terhadap bumi sebagai amanah Ilahi.
Dalam pemaparannya, Dr. Abdelaziz Abbaci menegaskan bahwa tuduhan bahwa Cak Nur mengesampingkan syariat dinilai tidak berdasar. Sebaliknya, pembacaan utuh atas karya-karyanya menunjukkan bahwa ia justru mengedepankan prinsip-prinsip syariat sebagai landasan etik dan spiritual dalam membangun gagasan tentang demokrasi, pluralisme, keadilan, dan kemanusiaan. Modernitas, bagi Cak Nur, bukanlah ruang kompromi terhadap iman, melainkan arena aktualisasi nilai-nilai Tauhid dalam konteks zaman. Pemikiran Cak Nur justru kental dengan nuansa tasawuf.
Seminar ini menegaskan bahwa 40 Human Virtues bukan sekadar kompilasi refleksi, tetapi upaya serius untuk menampilkan wajah Cak Nur secara lebih utuh: sebagai pemikir Muslim yang religius, berakar pada tradisi, terbuka pada modernitas, serta konsisten mengedepankan nilai kemanusiaan dan tanggung jawab moral. Dengan demikian, warisan intelektualnya tidak berhenti sebagai nostalgia sejarah, melainkan terus menginspirasi generasi baru untuk membaca Islam secara mendalam, berimbang, dan bertanggung jawab.

