Pengetahuan Tentang Musuh

M. Anis Mulachela

 

Tadi pagi saya membaca review buku yang sangat menarik. Buku ini berjudul “Ma’rifah al-‘Aduw” (pengetahuan tentang musuh), yang berisi kompilasi khotbah-khotbah Pemimpin Tertinggi Iran Sayid Ali Khamenei seputar topik itu. Buku ini masih tergolong baru, karena terbit pada tahun 2020. Namun, saya hanya bisa membaca reviewnya, sebab buku ini belum bisa diunduh. Itu pun saya sudah bersyukur.

Dalam buku ini, beliau sangat menekankan pentingnya pengetahuan tentang musuh. Namun, perlu digarisbawahi bahwa itu bukan berarti mencari musuh. Tidak sama sekali. Melainkan, pengetahuan tentang musuh merupakan kesadaran di dalam diri seseorang untuk mengenali siapa kawan dan siapa lawan. Selain itu, menurut beliau, syarat penting bagi kemenangan adalah mengenali musuh dan kemampuannya, tanpa merasa takut kepadanya.

Karena itu, beliau mengawali kajiannya dengan terlebih dahulu menyampaikan pemaknaan tentang musuh itu sendiri. Menurut beliau, musuh—seperti kata al-Qur’an—adalah mereka yang telah dikuasai oleh hawa nafsu, sehingga ingin memalingkan manusia sejauh-jauhnya dari kebenaran. Musuh adalah mereka yang menentang kemerdekaan dalam berbangsa dan beragama. Musuh adalah mereka yang serakah, penjarah, penimbun harta, dan sejenisnya. Yang mana, mereka ini adalah musuh di luar diri manusia.

Selain itu, terdapat pula musuh di dalam diri manusia, seperti kemalasan, putus asa, egois, tak percaya diri, dan sebagainya. Musuh dalam ini lebih berbahaya daripada musuh luar. Oleh sebab itu, musuh luar selalu berupaya keras untuk menciptakan musuh dalam. Mereka berusaha untuk menanamkan rasa takut dan putus asa di dalam diri seseorang atau sekelompok orang, sehingga orang-orang ini dapat dengan mudah dikuasai.

Seperti itulah yang dilakukan Israel dalam isu Palestina. Israel bukan hanya musuh kaum Muslim, melainkan juga musuh kemanusiaan dan dunia. Dia menanamkan rasa takut dan putus asa di dalam diri sebagian orang, sehingga mereka menjadi egois dan apatis terhadap nasib saudara-saudara mereka di Palestina serta tunduk pada keinginan Israel. Selain itu, Israel juga berupaya keras untuk menaklukkan kelompok-kelompok pro Palestina, baik secara terbuka maupun tersamar. Salah satunya melalui organisasi Na’amod.

Na’amod adalah organisasi Yahudi yang berada di Inggris dan mengklaim dirinya sebagai organisasi anti kekerasan. Organisasi ini mengecam perlawanan Hamas, sekaligus juga mengecam aksi kekerasan Israel di Gaza. Namun, terbukti bahwa Na’amod merupakan bagian dari gerakan strategis yang dibentuk oleh lembaga pemikir zionis bernama Reut Institute. Tujuannya adalah demi menarik para pendukung Palestina ke dekapan mereka, dengan menampilkan bahwa seolah-olah Na’amod adalah organisasi netral. Karena itu, protes organisasi ini terhadap Israel hanyalah kedok untuk menuai simpati dan menggiring ke arah normalisasi dengan Israel.

Sedangkan Reut Institute sendiri merupakan lembaga yang didirikan untuk melayani kepentingan Israel. Lembaga ini membagi kelompok pro-Palestina menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah kelompok yang ingin mendelegitimasi Israel. Kelompok semacam ini harus dilarang dan tidak boleh diberi kesempatan untuk beraktivitas. Sedangkan tipe kedua adalah kelompok yang hanya mengkritik Israel. Kelompok ini boleh dibiarkan eksis, tetapi harus diarahkan melalui sebuah gerakan strategis untuk menerima zionisme meskipun hanya sebagian. Kelompok tipe kedua inilah yang menjadi target organisasi Na’amod.

Alhasil, kembali ke buku Sayid Ali Khamenei, tidak semestinya kita mengabaikan dan menganggap enteng musuh, karena mereka berupaya keras dan serius untuk melakukan tipu daya kepada kita. Oleh sebab itu, mengenali musuh adalah kebutuhan mendesak. Karena, melalui itu kita juga akan mengetahui metode tipu daya yang mereka lakukan. Sehingga, kita dapat menyusun strategi yang jitu dalam menghadapi mereka.

Wallahu A’lam,

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

©2025 Sadra International Institute, All rights reserved.